Sabtu, 04 Maret 2017

Sedekah Adalah Salah Satu Bentuk Investasi - Oleh Ippho Santosa




Sedekah adalah salah satu bentuk investasi.

Lantas, apa saran praktis dari saya? Pertama-tama, investasi dulu dengan-Nya. Maksudnya, bersedekah. Terus? Kedua, investasi untuk otak kita. Maksudnya, belajar. Setelah itu? Insya Allah akan lebih mudah untuk investasi real, misalnya properti atau emas.

Orang lain mungkin perlu sedekahan kita. Yang sebenarnya, kitalah yang lebih perlu untuk bersedekah. Ya, lebih perlu. Bukankah rezeki kita jadi lebih baik setelah bersedekah?

Dengan kata lain, sedekah yang kita berikan kepada sesama, pada hakikatnya itu untuk kita. Ya, untuk kita. Bukankah segala manfaat dan pahalanya akan kembali kepada kita?

"Harta yang kita kumpulkan dan perniagaan yang kita sibukkan, hampir-hampir itu tak bermakna. Kecuali itu jadi amal dan manfaat," inilah pesan guru saya sejak lama.

Mendengar itu, saya langsung berdoa dalam hati, "Ya Allah, jauhkan kami dari perniagaan yang merugi. Dan jauhkan kami sejauh-jauhnya dari kehidupan yang merugi. Aamiin."

Satu hal lagi. Setelah bersedekah, kadang niat kita bisa terganggu. Merasa bangga. Merasa berjasa. Macam-macamlah. Makanya kelurusan niat dan ketulusan niat mesti kita jaga benar-benar. Soal amal, jangan pernah sekalipun kita merasa bangga. Toh, rezeki dari Allah. Yang menggerakkan kita untuk bersedekah juga Allah. Right?

Sekian dari saya, Ippho Santosa...

When You Stop Learn You Stop Earn - Oleh Andre Uno Salah Satu Pendiri Bukalapak



Alkisah..

Suatu hari Seorang  pemuda didesa afrika diculik sewaktu jalan jalan / wisata ke hollywood dan dibuang ke jalan di Route 66 di Amerika.

Setelah berjalan sekian lama dia menemukan gudang kosong disitu ada sepeda kayuh, motor harley davidson dan mobil ferrari dg semua kunci tergantung ditempatnya masing2 siap dikendarai..

..merasa takjub dengan mobil ferrari yg merah mulus.. dan motor harley davidson yang gagah ..orang itu melihat cukup lama..mengelus dan meraba motor harley davidson dan mengagumi kilau cat mobil ferrari tersebut..

Setelah menghela nafas..orang afrika tersebut akhirnya memutuskan mengambil sepeda kayuh karena itulah alat transportasi yang biasa dia gunakan di desanya di Afrika dan bersepeda meneruskan jalan kekota untuk meminta bantuan.

(Jangan ngarep ambil yg ferrari atau harley yaa..wkkk kk.. dia gak bisa naik motor dan nyetir mobil hihii..)

Sahabat bisnis dan para leader yang saya cintai, 

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari cerita diatas?..

Ternyata pada dasarnya SETIAP ORANG SELALU MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG TERBAIK  BAGI MEREKA BERDASARKAN PENGETAHUAN / KEUNIKAN DIRINYA DAN KONDISI YANG DIALAMINYA PADA SAAT ITU.

Artinya PENGAMBILAN KEPUTUSAN KITA adalah berdasarkan keputusan menurut pengetahuan kita yang terbaik pada saat itu..

Seperti contoh diatas..

Kalau kita cuma punya kemampuan naik sepeda kayuh/sepeda biasa , walaupun pada saat itu disamping sepeda kayuh ada motor atau bahkan mobil dan kita memerlukan alat transport, apa yang akan kita gunakan? ...

YESS kita akan menggunakan sepeda..

Begitu juga andaikata kita punya kemampuan naik motor, walau disamping motor kita ada mobil dengan kunci menggantung...

Apa yang kita gunakan sebagai transport andaikata kondisi hujan dan gak ada orang didekat kita?.
YESS kita memilih motor dan memakai mantel hujan walaupun ada mobil karena tidak bisa menyetir.

Sahabat bisnis yang saya cintai, sebagian besar dari kita pasti pernah MELAKUKAN KESALAHAN karena mengambil KEPUTUSAN yang KURANG JITU ATAU MATANG PADA SAAT ITU.

Efeknya pasti bisa ditebak, akhirnya terjadi satu KESALAHAN yang kita MENERIMA KONSEKUENSI cukup FATAL sesudahnya, Bisa RUGI ATAU BAHKAN BANGKRUT dalam BISNIS kita.

Bagi sahabat bisnis yg optimis maka masih bisa TERSENYUM dan segera melakukan EVALUASI dan terus MOVE ON...

Naah ada juga sahabat bisnis atau para leader kemudian menjadi TRAUMA / dan kemudian menjadi RAGU RAGU dalam setiap PENGAMBILAN KEPUTUSAN dan akhirnya sama saja BISNISNYA BANGKRUT atau GAK MAJU MAJU.

Oke ... trus gimana dong?.

Naah yang MENJADI PERTANYAAN kemudian adalah APA DASAR PENGAMBILAN KEPUTUSAN ITU?.

Ternyata pengambilan keputusan itu diDASARI OLEH PENGETAHUAN dan KEUNIKAN MODEL DUNIANYA pada saat itu.

Hal yang sama juga terjadi pada para pemimpin / manager dalam bisnis kita.

Kebayang gak bahwa kita terpaksa harus membereskan banyak KESALAHAN yang dilakukan oleh MANAGER / SUPERVISOR kita karena mereka salah dalam mengambil keputusan?.

Apakah kita ngomel2 akan menyelesaikan masalah?..nooope tidak sama sekali.

Berapa banyak kerugian atau LOST yang terjadi dalam bisnis Kita karena KESALAHAN dalam pengambilan pengambilan keputusan yang kurang terukur?.

Apakah KESALAHAN STRATEGI DI BIDANG MARKETING,... 

KESALAHAN STRATEGI DI BIDANG OPERASIONAL,... 

KESALAHAN STRATEGI DIBIDANG FINANCE,...  

ATAU KESALAHAN STRATEGI DI BIDANG SDM.

Dan semua kesalahan itu terjadi karena KITA MALAS MENGUPGRADE KNOWLEDGE KITA juga karena kita Jarang MENGUPGRADE KEMAMPUAN TEAM KITA.

Apalagi diera DIGITALISASI dan INFORMASI yang begitu cepat saat ini mengakibatkan kita mengalami banyak perubahan STRATEGI yang berubah sedemikian cepat.

Bagaimana kita belajar menjadi ADAPTATIF terhadap PERUBAHAN bukan saja sekedar BERTAHAN tetapi menjadi PEMENANG.

Nah disinilah Sahabat bisnis jadi memahami bahwa kesalahan dalam pengambilan keputusan yang kita alami disebabkan kita kurang mempunyai KNOWLEDGE dan SKILL yang seharusnya KITA PUNYAI agar setiap EKSEKUSI KEPUTUSAN KITA MENJADI KEPUTUSAN YANG SEMPURNA.

Mempunyai ILMU, STRATEGI serta KEAHLIAN MENGELOLA RESIKO dalam BISNIS adalah HAL WAJIB YANG DIMILIKI OLEH PARA LEADER DAN OWNER BISNIS pada saat ini.

Jadi MENGUPGRADE DIRI adalah bagian PENTING DALAM PROSES PERTUMBUHAN DIRI DAN BISNIS KITA.

Ada satu pepatah yang inspiratif adalah 
"WHEN YOU STOP LEARN..

YOU WILL STOP EARN".. -..PADA SAAT KITA BERHENTI BELAJAR KITA AKAN BERHENTI MENGHASILKAN"..

Selamat beraktifitas dan nantikan share bisnis / strategi bisnis lainnya bersama saya berikutnya.

"Systemize your business"
BELAJAR - PRAKTEK - BERBAGI

Angky

-----

Di Copas Dari Share ren mas Andrey Uno di Grup Whatsapp yang dikelolanya.

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 28 - Musuh Ada di Mana-Mana

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------

“TIDAK terbayangkan, Nak. Sungguh tidak pernah berani kubayangkan, bahkan dalam mimpi paling liar orang tua ini sekalipun, kalau kau ternyata selamat dari kejadian puluhan tahun silam. Kupikir hanya Liem, istrinya, dan Opa yang selamat. Ternyata kau juga selamat.” Orang tua dengan tongkat di tangan itu merentangkan tangannya, dan tanpa bisa kucegah, sudah memelukku takzim.

Aku masih menelan ludah. Berdiri menerima pelukan, mengingat-ingat wajahnya.

Dia melepaskan pelukan, menatapku datar, tersenyum. “Kau dulu masih kecil sekali, Tommi. Setinggi ini. Berpakaian seperti pelayan, berlari-lari kecil membawa nampan berisi gelas air minum dan makanan saat pesta keluarga diadakan. Apa kata Edward, papamu? Tentu saja dia mau bekerja keras, Shinpei, dia digaji mahal sekali. Aku lantas bertanya, mahal? Papamu menjawab, sebuah sepeda baru, Shinpei. Seperti baru terjadi kemarin sore pesta meriah itu, beberapa bulan sebelum rumah dan gudang kalian dibakar massa mengamuk.”

Aku akhirnya ingat sudah.

Bukan karena orang yang sedang memegang bahuku itu menyebut namanya sendiri, tapi karena aku juga sempurna kembali mengingat masa lalu itu. Tuan Shinpei, orang ini adalah rekanan Papa dan Om Liem zaman berdagang tepung terigu dulu. Salah satu pengusaha besar yang kudengar tahun-tahun terakhir memiliki bisnis properti hingga negeri tetangga.

“Lihatlah, anak kecil berpakaian pelayan itu sekarang sudah berubah menjadi harimau gagah. Astaga, Nak, aku melihat sendiri bagaimana tadi kau mengendalikan puluhan nasabah kakap yang marah. Itu amazing, mengagumkan, Tommi. Ke mana saja kau selama ini? Aku tidak pernah mendengar kau dalam rapat perusahaan milik Om Liem dan Opa. Kau sekolah di business school ternama? Dikirim Liem belajar magang di perusahaan raksasa Amerika? Disiapkan sebagai penerus bisnis keluarga? Atau jangan-jangan kau diam-diam sedang membangun imperium bisnis sendiri? Dengan kemampuanmu tadi, itu mengerikan, Nak, tidak akan ada satu pesaing pun yang berani melawanmu.”
Aku untuk pertama kalinya membalas kalimat Tuan Shinpei dengan tersenyum terkendali, menggeleng. “Aku hanya membuka kantor konsultan keuangan skala kecil, Tuan Shinpei.”

Dia menggeleng. “Jangan panggil aku Tuan Shinpei, Tommi. Kau panggil saja Om Shinpei. Keluarga kalian sudah seperti keluargaku sendiri.” Tuan Shinpei diam sejenak, mengangguk-angguk. “Oh iya, apa kau bilang tadi? Konsultan keuangan? Aku baru ingat, aku pernah melihat wajahmu sekali dua di majalah atau review ekonomi Hongkong terkemuka. Tetapi aku tidak menduga kau adalah Thomas yang itu. Aku baru tahu beberapa menit lalu, menatap wajahmu mengingatkanku pada Edward. Orang tua ini tinggal di Hongkong, Tommi, tidak tahu banyak urusan bisnis di Jakarta. Bahkan sebenarnya aku baru tiba tadi malam. Perjalanan mendadak yang cukup melelahkan untuk orang setuaku.”

Aku mengangguk sopan, melirik pergelangan tangan. Lima menit aku tertahan di lobi gedung Bank Semesta. Kalau saja orang tua ini bukan Tuan Shinpei, aku sudah izin pamit segera, pertemuan superpenting menungguku pukul sebelas. Tapi mengingat dia adalah teman dekat Papa dan Om Liem, aku memutuskan basa-basi sebentar.

“Perjalanan mendadak? Keperluan bisnis?” aku bertanya, mencomot sembarang pertanyaan.

Tuan Shinpei mengangkat bahu. “Iya, perjalanan bisnis mendadak, Tommi. Tidak kebetulan aku datang kemari. Ke gedung megah bank yang nyaris kolaps milik Liem. Aku terdaftar dalam nasabah besar Bank Semesta. Tadi malam aku dihubungi untuk segera berkumpul.”

Alis mataku sedikit terangkat.

“Tentu saja namaku tidak ada dalam daftar yang kau pegang. Tetapi setidaknya ada lima nama nasabah lain yang mewakili depositoku secara tidak langsung.” Tuan Shinpei menjelaskan tanpa diminta. “Urusan ini rumit sekali, bukan. Semua uang nasabah terancam hangus tanpa sisa. Aku sebenarnya pernah dihubungi Liem enam bulan lalu. Dia bahkan pernah datang ke Hongkong tiga bulan lalu, mendiskusikan jalan keluar Bank Semesta. Sayangnya bisnis properti milikku juga sedang bermasalah. Aku tidak bisa membantu banyak. Ini situasi rumit kedua yang harus dihadapi Liem setelah cerita lama tentang arisan berantai itu, bukan?”

Lobi luas tempatku berdiri berhadapan-hadapan dengan Tuan Shinpei dan dua ajudannya meski lengang dari lalu lalang orang tetap berisik. Suara perdebatan di ruangan rapat terdengar hingga lobi.
Aku mengangguk, teringat percakapan dengan Om Liem sebelum melarikan diri dengan kamuflase ambulans dua malam lalu. Aku pernah bertanya apakah Om Liem telah meminta bantuan kolega bisnisnya, siapa saja, termasuk dari Tuan Shinpei. Tetapi aku baru tahu pagi ini kalau Tuan Shinpei juga memiliki dana di Bank Semesta.

“Kau sepertinya punya rencana hebat, Tommi?”

“Rencana hebat?”

“Iya, apalagi, rencana hebat menyelamatkan Bank Semesta?” Tuan Shinpei bertanya, menyelidik dengan mata berkerut.

Aku menggeleng perlahan. “Tidak ada rencana hebat. Hanya rencana nekat.”

Tuan Shinpei terkekeh prihatin. “Jangan terlalu merendah, Tommi. Kau pastilah yang terbaik dari ribuan konsultan keuangan yang ada, bukan. Wajah kau ada di halaman depan majalah Hongkong, itu pasti jaminan. Dan lebih dari itu, kau pasti akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan bisnis keluarga, bukan? Bahkan termasuk mati sekalipun. Mereka punya lawan tangguh sekarang.”

Aku terdiam, menelan ludah, sedetik, aku seperti merasa ada yang ganjil dengan percakapan ini.

“Ini kabar baik. Tentu saja kabar baik.” Tuan Shinpei mengangguk-angguk, tidak terlalu memperhatikan ekspresi wajahku. “Jadi aku tidak usah mencemaskan banyak hal lagi, bukan? Kehilangan sepertiga jelas lebih baik dibanding semuanya. Itu rumus baku bagi pebisnis ulung. Mengorbankan sebagian, demi keuntungan lebih besar. Mundur dua langkah, untuk maju bahkan lari ribuan langkah. Kau pasti lebih dari paham tentang itu. Nah, bisa kauceritakan apa yang sedang kaurencanakan, Tommi?”

Aku menggeleng sopan.

“Tentu saja kau tidak boleh bercerita.” Tuan Shinpei tertawa kecil. “Atau kau bisa memberitahuku, Liem sekarang berada di mana? Sejak tadi malam aku berusaha mencari tahu, tentu juga puluhan nasabah lainnya ingin tahu.”

“Om Liem di tempat yang aman.”

“Tempat yang aman?”

Aku lagi-lagi menggeleng sopan, tapi tegas. Lobi luas gedung Bank Semesta masih lengang dari lalu lalang orang. Suara berisik di ruangan rapat mulai terdengar pelan, Ram sepertinya melakukan apa saja untuk mengendalikan diskusi.

Sejenak aku saling beradu tatapan dengan Tuan Shinpei.

“Baiklah, Tommi. Orang tua ini sepertinya terlalu cemas, terlalu ingin tahu. Kau sepertinya sedang terburu-buru. Waktu yang tersisa sempit sekali, bukan? Kau boleh meninggalkanku sekarang.” Tuan Shinpei menepuk-nepuk bahuku. “Aku akan bergabung ke ruangan rapat bersama nasabah lain. Setidaknya aku tidak perlu mencemaskan nasib Bank Semesta sekarang, termasuk nasib uangku, nasibnya sudah ada di tangan orang yang tepat. Aku hanya perlu mencemaskan hal lain.”

“Mencemaskan hal lain?” aku bertanya.

Tuan Shinpei menyeka pelipis, menatapku sambil tersenyum. “Apalagi selain mencemaskanmu, Tommi. Apa pun yang sedang kaulakukan, itu pasti berbahaya. Hati-hatilah, Nak. Apa kata pepatah bijak orang tua dulu, musuh ada di mana-mana, maka berhati-hatilah sebelum kau bisa memegang kerah lehernya. Senang bertemu kau lagi, Tommi.”

Tuan Shinpei sudah melangkah menuju ruangan rapat sebelum aku basa-basi menjawab kalimatnya. Dua ajudannya ikut bergerak. Suara tongkat mengetuk lantai keramik terdengar berirama.

Aku menelan ludah. Rombongan Tuan Shinpei sudah menghilang di balik pintu ruangan rapat.

Aku melirik pergelangan tangan, mengumpat dalam hati. Waktuku terbuang hampir setengah jam. Aku harus segera menuju kantor, mengambil salinan dokumen dari Maggie. Jadwal audiensiku dengan menteri satu setengah jam lagi. Aku berlari-lari kecil melintasi lobi luas gedung Bank Semesta.


*bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 27 - Sepertiga atau Semua

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------


“PRANG!!”

Guci berusia ratusan tahun---salah satu ornamen sederhana, tapi superantik dan mahal---di ruangan rapat lantai satu Bank Semesta menghantam dinding. Hancur berbeling-beling.

Ruangan besar hening sejenak setelah suara bising yang mengejutkan.

“Kami mau uangnya kembali!” Salah seorang nasabah yang baru saja melempar guci berharga itu---ditilik dari wajah dan bentuk badannya dia pastilah pernah mengikuti dinas kemiliteran---menatapku galak.

“Ya, kami mau uangnya kembali.” Nasabah lain berseru menimpali.

“Benar.” Teriakan nasabah lain ikut terdengar, mengangguk-angguk dengan tampang masam.

“Kami juga ingin bertemu dengan Om Liem, sejak tadi malam kami ingin mendengar penjelasan langsung darinya, bukan staf ahli, orang kedua, wakil, atau apalah kalian menyebutnya.” Salah satu nasabah di barisan belakang berseru pelan.

“Iya, kami ingin bertemu Om Liem. Dia harus mengembalikan seluruh uang kami.”

Aku mengembuskan napas jengkel, menggeleng. 

Urusan ini sama saja, di pinggiran pasar induk yang becek dan bau, maupun di ruangan dengan lantai keramik mahal dan bergorden beludru. Baik para pedagang buah dan sayur yang meributkan kembalian, maupun nasabah kelas kakap dengan tabungan miliaran, semua orang bertingkah sama, melupakan kesabaran jika urusannya tentang uang.

“Baik!” aku berseru tegas, berjalan cepat menuju sudut ruangan, kasar menyambar guci antik lain. “Nah, kaulemparkan juga yang ini! Lemparkan semaumu!”

Aku membentak, melotot.

Nasabah setengah baya, berbadan kekar itu terdiam, bingung menatapku.

“PRANG!!” Aku yang lebih dulu melemparkan dua guci mahal itu menghantam dinding cermin dekat proyektor. Suara potongan guci yang hancur beserta serpihan cermin berderai menimpa lantai.

Gumaman puluhan nasabah besar Bank Semesta segera bungkam, mereka sempurna menatap ke arahku.

“Kalian lemparkan semua guci di ruangan ini, kalian rusak semuanya, bahkan gedung besar ini kalian hancurkan, percuma, itu tidak akan mengembalikan uang kalian!” aku berseru, balas menatap wajah-wajah tidak sabaran.

“Sekali Bank Semesta ditutup pemerintah, tidak ada sepeser pun uang nasabah di atas dua miliar akan selamat. Percuma kalian teriak, marah, demo membakar ban di depan Istana, sia-sia, maka berhentilah bertingkah kekanak-kanakan, mari kita bicara baik-baik.”

Ruangan besar kembali senyap.

Aku menahan napas. 

Pertemuan ini sebenarnya berjalan sesuai dugaanku. Persis aku masuk ruangan, mereka sudah berteriak marah, dan lebih marah lagi saat aku mulai bicara tentang kemungkinan Bank Semesta ditutup. Lima menit berlalu, hanya soal waktu salah satu nasabah akan berusaha meninju wajahku, pertemuan menjadi gaduh. Jadi, aku harus bergerak cepat.

Adegan melempar guci tadi sepertinya kurang lugas dan meyakinkan, maka aku mencabut revolver di pinggang. Beberapa nasabah berseru tertahan melihat senjata itu teracung, dua-tiga malah refleks melangkah mundur. Aku tidak peduli, melangkah maju, menyerahkan pistol itu ke tangan nasabah setengah baya berbadan kekar yang berdiri paling dekat.

“Nah, kau tembak saja kepalaku, uangmu tetap tidak akan kembali!” Aku berkata datar dan tajam, memasangkan gagang pistol ke dalam tangannya.

“Ayo, tembak saja!” aku menyuruh, mengarahkan tangan yang memegang pistol ke kepalaku, moncong S&W itu persis di dahiku sekarang.

Wajah-wajah tidak sabaran itu dengan cepat berubah menjadi pias. Nasabah ibu-ibu menutupi wajahnya dengan tas bermerek atau kedua belah telapak tangan, jerih. Satu-dua malah berteriak panik, berseru “jangan” atau “hentikan”.

“Tembak saja!” Aku justru membentak.

Setengah menit senyap.

Dia menggeleng, mengembuskan napas.

Tangannya yang memegang pistol terkulai.

Tatapan galak itu telah luntur. Delapan menit sejak pertemuan dimulai, aku akhirnya menguasai situasi. Ini rekor terlamaku mengendalikan sebuah pertemuan.

“Kami hanya ingin uang itu kembali, Pak Thom.” Nasabah setengah baya berbadan tegap itu berkata pelan. “Saya lama sekali mengumpulkannya, itu uang pensiun saya setelah berpuluh tahun menjadi tentara. Uang sekolah anak-anak yang masih remaja, biaya makan kami, biaya berobat. Pak Thom pastilah tahu, bahkan untuk pensiunan tentara, meski jenderal sekalipun, uang pensiun dari pemerintah tidak memadai.”

Nasabah lain mengangguk---meski tidak bergumam ribut lagi.

“Baik, kalau demikian, kita bisa bicara baik-baik sekarang.” 

Aku memasang kembali revolver ke pinggang, menatap wajah-wajah di sekitarku dengan tatapan pura-pura bersimpati---peduli setan dengan rasa simpatiku, di ruangan ini, banyak sekali nasabah yang tidak masuk akal bisa memiliki deposito puluhan miliar. 

“Nah, seperti yang telah kusampaikan dalam kalimat pembuka pertemuan kita tadi, aku adalah konsultan keuangan profesional. Aku ditunjuk mewakili Om Liem untuk melakukan negosiasi dengan otoritas yang memutuskan apakah Bank Semesta ditutup atau tidak sebelum pukul 08.00 besok pagi Senin.” Aku memasang wajah tegak, menatap seluruh peserta pertemuan.

“Kabar buruknya, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, menurut perhitungan serta penilaian profesionalku, Bank Semesta bahkan seharusnya ditutup enam tahun lalu. Titik. Kabar baiknya, urusan ini sudah telanjur rumit dan memiliki implikasi luas, tidak pernah lagi sesederhana enam tahun silam. Lagi pula, sebagai orang yang dibayar pihak bank, aku jelas orang pertama yang menentang penutupan Bank Semesta. Aku akan melakukan apa saja untuk mencegah Bank Semesta pailit.

“Kenapa kita bertemu di sini? Dalam situasi tidak jelas, panik, serta marah? Karena aku butuh bantuan kalian. Apa yang aku butuhkan? Sederhana saja. Kalian jawab pertanyaan ini, dalam situasi darurat, dengan kemungkinan seratus persen uang kalian hilang, apakah kalian akan memilih kehilangan seluruh uang itu atau bersedia mengorbankan sepertiga darinya sebagai biaya penyelamatan?”

Aku diam sejenak, membiarkan puluhan nasabah kelas kakap mencerna kalimatku.

“Kalian kehilangan semua atau sepertiga, pilih yang mana?” Aku mengulang pertanyaan itu setelah mereka saling menoleh, bergumam pelan, mulai mengerti situasinya.

“Tetapi buat apa uang yang sepertiga itu, Pak Thom?”

Aku tertawa prihatin. “Untuk menyumpal semua pihak, apalagi?”

Mereka terdiam.

“Jika itu terjadi, jika Bank Semesta akhirnya diselamatkan komite stabilitas keuangan nasional, itu jelas akan menjadi skandal perbankan terbesar di negeri ini. Semua pihak, terutama media massa, LSM, lembaga, individu yang masih memiliki integritas akan menuntut dilakukan penyelidikan, diusut tuntas. Nah, sebelum itu terjadi, kita harus menyumpal sebanyak mungkin pihak terkait. Pejabat pemerintah, partai politik, petinggi institusi, kroni, teman, kolega, bahkan bila perlu pengurus organisasi olahraga, apa pun itu, semakin banyak yang menerima kucuran uang haram itu, maka jangankan melakukan penyidikan secara sistematis dan besar-besaran, menggerakkan satu pion petugas penyidik saja mereka tidak kuasa. Seluruh penjara di negeri ini penuh jika komisi pemberantasan korupsi berani mengutak-atik kasus penyelamatan Bank Semesta.

“Aku butuh banyak uang untuk melakukannya, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Nah, kalian bersedia menyerahkan sepertiga deposito atau tabungan, atau sebaliknya, kalian bersedia kehilangan semuanya. Putuskan segera, sebelum pemerintah mengetuk palu. Sekali Bank Semesta ditutup, tidak ada lagi rekayasa yang bisa aku lakukan. Kalian punya waktu setengah jam untuk berdiskusi, aku harus segera pergi, waktuku sempit. Selamat pagi.” Aku balik kanan, meninggalkan keributan yang segera meruap di ruangan.

“Ram, kau pimpin mereka berdiskusi,” aku menepuk bahu Ram, “kabarkan segera padaku apa pun keputusan mereka.”

Ram mengangguk, bergegas menyejajari langkah kakiku keluar ruangan rapat. Suara bising peserta pertemuan segera memenuhi langit-langit. Satu-dua berseru soal semua ini tidak masuk akal, menyesal telah menabung di Bank Semesta. Satu-dua menangis, mungkin sedih membayangkan uangnya hilang. Tetapi lebih banyak yang mengangguk menyetujui kalimatku, mulai berkumpul dan membahas solusi yang kutawarkan, solusi paling masuk akal bagi mereka.

Aku sudah tidak mendengarkan, sudah pukul sembilan. Dua jam lagi jadwal pertemuanku dengan menteri, aku harus singgah sebentar ke kantor mengambil salinan dokumen Bank Semesta dari Maggie.

Saat itulah, saat aku melintasi pintu, berjalan cepat menuju lobi luas gedung, seseorang telah menungguku. Rambutnya menguban, tubuhnya gempal pendek, wajah khas seperti Opa. 

Dia tersenyum hangat. “Tommi, apa kabar?”

Aku mendongak, menelan ludah. Hanya sedikit orang yang tahu nama panggilan masa kecilku, Tommi, apalagi sejak rumah dibakar puluhan tahun lalu. Nama kecil itu hanya diketahui Opa, Om Liem, dan Tante. Siapa orang tua ini?



**

Bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

Kamis, 02 Maret 2017

Raja Tanpa Baju

Baju Baru Sang Kaisar adalah dongeng dari Denmark yang ditulis oleh Christian Andersen, diterbitkan pada tahun 1837.

Alur Cerita:

Alkiash, hiduplah hiduplah seorang kaisar yang hanya peduli dengan pakaiannya dan memamerkan pakaiannya itu. Suatu hari, dua orang penipu datang kepadannya dan berkata bahwa mereka bisa membuatkannya pakaian terbaik dari kain yang paling cantik. Kain itu, kata mereka, sangatlah istimewa. Kain itu tak kasatmata bagi orang yang bodoh dan tidak kaya. Karena agak khawatir apakah dia akan bisa melihat kain istimewa tersebut. Tentu saja kain itu sama sekali tidak ada, tapi tak seorangpun mau mengakui bahwa mereka tidak bisa melihatnya. Jadi, mereka memuji-muji kain itu.

Seiring beredarnya kabar mengenai kain itu, segenap warga kota merasa tertarik untuk mencari tahu sebodoh apa tetangga mereka.

Sang kaisar kemudian mengizinkan dirinya didandani oleh para penipu itu dalam setelan barunya yang istimewa, yang terbuat dari kain istimewa tersebut, untuk prosesi mengelilingi kota. Walaupun mengetahui dirinya telanjang, dia tak pernah mengakui hal itu karena takut kalau-kalau dia ternyata tidak cocok dan terlalu bodoh untuk menjadi kaisar karena melihat dirinya tidak mengenakan apa-apa. Dia juga khawatir dikira bodoh oleh warga kota.

Tentu saja segenap warga kota memuji pakaian sang kaisar yang luar biasa, mereka takut megnakui bahwa mereka tidak bisa melihat pakaian itu, sampai seorang bocah berkata, “Tapi dia tidak mengenakan apa-apa!”


Orang tua sang bocah terkesiap dan berusaha menutup mulutnya, tapi bocah itu tidak mau diam. Sambil berputar dan melepaskan tangan orang tuanya dari mulutnya, dia terus berkata, “Kaisar telanjang!” Segera saja beberapa temannya mulai ikut tertawa cekikikan dan ikut berseru-seru, “Kaisar Telanjang!” “Kaisar Tidak Pake Baju!” Beberapa saat kemudian orang dewasa bergabung dengan anak-anak mereka dan mulai berbisik, “Anak-anak benar!” “Laki-laki tua itu tidak mengenakan apa-apa. Dia bodoh dan dia berharap kita sama bodohnya seperti dirinya.”

--

Kira-kira pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas?

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 26 - Kontak Putra Mahkota

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------


“PAK THOM naik apa? Kita tidak punya kendaraan di dermaga.” Kadek menyejajari langkahku, bergegas menyerahkan S&W. Aku menyuruhnya mengambil revolver itu dari kamar.

Pasifik sudah sempurna merapat di bagian dermaga lain. Dari geladak kapal, sebenarnya dengan binokuler bisa terlihat tidak ada polisi yang berjaga di dermaga tempat kapal ini sebelumnya tertambat, tapi aku memutuskan merapat di bagian lain.

“Aku naik taksi, Kadek.” 

“Taksi?” Kadek menyeringai.

Aku menoleh, sambil memasang revolver di pinggang. “Naik apa lagi? Aku menelepon call center mereka lima menit lalu, salah satu mobilnya segera ke dermaga.”

“Pak Thom akan berperang dengan naik taksi?”

Aku tertawa kecil. “Aku tidak pergi berperang, Kadek. Ini hanya untuk berjaga-jaga.”

Aku melambaikan tangan pada Opa dan Om Liem yang berdiri di balik jendela kamar dengan tirai tersingkap, berjalan cepat ke tempat taksi terparkir rapi, membuka pintu, mengempaskan badan di jok mobil, dan menyebut alamat kantorku---tujuan pertama pagi ini. Aku harus mengambil salinan dokumen Bank Semesta dari Maggie.

“Bergegas. Semakin ngebut, semakin banyak tips yang kuberikan.”

Sopir taksi mengangguk senang. Ditilik dari gurat wajah mudanya, jelas dia bosan dengan aturan main harus mengendarai kendaraan hati-hati dan nyaman, belum lagi stiker di pintu mobil, laporkan ke nomor telepon ini jika pengemudi ugal-ugalan. Aku merestuinya. Dia segera menekan pedal gas, sambil membanting setir, taksi berbelok, meluncur cepat meninggalkan dermaga yacht.

Lima menit, mobil sudah melintasi tol yang lengang pada Minggu pagi, langsung menuju pusat kota.
Aku meraih telepon genggam, saatnya menghubungi beberapa orang.

“Astaga, Thomas! Kau dari mana saja?”

Ram, adalah orang pertama, dan aku sedikit menyesal menghubunginya lebih dulu.

“Aku menelepon kau sejak pukul sepuluh tadi malam, Thomas. Telepon genggam kau tulalit. Berkali-kali, berkali-kali, kau membuatku terjebak serbasalah menghadapi puluhan nasabah Bank Semesta. Wajah-wajah cemas, meminta penjelasan, bahkan mereka berteriak-teriak marah tidak sabaran. Mereka minta segera kepastian, ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kau gila, Thom, ke mana kau sebenarnya tadi malam. Aku tidak bisa menangani mereka sendirian. Setengah jam lebih aku berusaha menahan mereka, bersabar, menyuruh mereka menunggu hingga kau datang. Sial, jangankan hidung dan dahimu, telepon genggam kau mati.”

“Rileks, Ram,” aku menyela sebelum kalimat keluhan (sekaligus laporan) Ram tidak berkesudahan dan berlebihan, “kita bisa meminta mereka kembali berkumpul, re-schedule. Aku akan menjelaskan situasinya. Ini hanya soal pertemuan yang tertunda.”

Ram tertawa kecil, prihatin. “Tidak perlu, Thom. Tanpa disuruh, mereka sudah berkumpul. Pagi ini sudah separuh nasabah besar datang ke kantor pusat Bank Semesta, mendesak bertemu dengan Om Liem. Ini hari Minggu, Thom, tapi mereka datang dengan wajah seperti Senin yang menyebalkan. Berdiri di depan kantor, terus menyuruh satpam membuka pintu.”

Aku menelan ludah. Itu kabar terbaru di luar dugaan. Aku berpikir sejenak.

Aku melirik jam di dasbor taksi. Pukul 07.45, masih tiga jam lagi janji pertemuan dengan menteri. Aku harus bergerak cepat, waktuku tinggal 24 jam sebelum tenggat besok Senin, pukul 08.00.

“Baiklah, ini menjadi lebih mudah, Ram. Bilang ke mereka, aku akan tiba di kantor lima belas menit lagi. Kita bahas segera masalah ini. Kau juga minta nasabah besar lain bergegas datang.”

Aku mematikan telepon genggam sebelum Ram sempat berkomentar. Aku menjulurkan kepala ke depan, menyebut gedung tujuan baru, kantor Bank Semesta. 

Sopir taksi tidak banyak bertanya, hanya mengangguk, matanya konsentrasi penuh ke depan.

Aku menekan nomor telepon kedua, Erik. Nada tunggu lama, sial, tidak diangkat-angkat. Aku hampir menutup telepon, bersiap mengumpat dalam hati, jangan-jangan dia masih tidur lelap.

“Hallo, siapa?” Suara menguap.

Aku menyengir. “Siapa? Sayangnya mungkin aku orang yang paling kauhindari sejak kemarin, Kawan.”

Benar, belum habis kalimatku, Erik sudah mendengus. 

Aku tertawa pelan, setidaknya Erik jadi seratus persen bangun mendengar suaraku.

“Kau mau apalagi? Ini hari Minggu, tidak bosannya kau mengganggu waktu istirahatku. Aku sudah melakukan yang kauminta. Pejabat bank sentral itu mengalah. Dia mentah-mentah mengerjakan apa yang kausuruh, mempermanis laporan. Entah dari mana dia memperoleh angka talangan dua triliun. Dia juga menghapus seluruh laporan rekayasa dan kejahatan keuangan Bank Semesta di seluruh laporan sebelumnya. Asal kau tahu, mungkin setitik pun tidak lagi tersisa kode etik, integritas, kejujuran, dan sebagainya di hati dia gara-gara permintaanmu.”

Tawaku bungkam, wajahku sedikit mengeras. “Jangan bicara soal kode etik, integritas, dan kejujuran kepadaku, Erik. Ini masih terlalu pagi untuk ceramah. Kita sama-sama tahu, untuk orang-orang seperti kita, kehormatan adalah omong kosong. Boleh saja kau presentasi tentang good governance, patuhi regulasi, sesuai standar prosedur, membual pada setiap klien, tapi sejatinya kita hidup dari bisnis hipokrasi.”

Erik di seberang sana menelan ludah, terdiam oleh kalimat tajamku.

“Lupakan. Aku meneleponmu hanya untuk bertanya, kau punya nomor telepon ‘putra mahkota’?” aku menyela, lengang sejenak.

“Putra mahkota?” 

“Siapa lagi? Salah satu anggota klub bertarung kita, Erik, petinggi partai besar, orang penting di negeri ini. Kau punya nomor teleponnya?”

“Buat apa?” Erik bertanya ragu-ragu.

“Aku mau mendaftar jadi kader partainya. Siapa tahu bisa bantu-bantu bazar sembako atau berjaga di pos periksa kesehatan gratis.”

“Eh?”

“Berhentilah bertanya, Erik.” Aku menyumpahi Erik dalam hati. “Aku harus menguasai seluruh bidak jika ingin memenangkan permainan ini, menyelamatkan Bank Semesta.”

Erik diam sebentar, helaan napasnya bahkan terdengar hingga langit-langit taksi.

“Nomor teleponnya langsung, Erik. Bukan nomor kontak sekretaris, ajudan, staf ahli, apalagi orang-orang penjilat di sekitarnya. Aku harus berbicara langsung dengannya.” Aku mengingatkannya sebelum dia menjawab.

“Baik, Thom. Akan kukirimkan business card-nya beberapa detik lagi.”

“Nah, itu baru teman yang baik.”

“Kau berutang banyak sekali padaku untuk ini semua, Thom”

Aku tertawa. “Tenang saja. Aku akan membayarnya lunas. Kau bahkan bisa sekaligus menagih bunga-bunganya setelah hari Senin, Kawan. Dengan asumsi, aku masih hidup dan bebas berkeliaran di kota ini.”

Aku menutup pembicaraan, membiarkan dahi Erik terlipat mendengar kalimat terakhirku. 

Taksi terus menyalip apa saja di depannya. Sepuluh menit lagi kantor pusat Bank Semesta. Aku menarik napas dalam-dalam, kalimatku tadi kepada Erik tidak bergurau. Dengan situasi yang terus serius jam demi jam, ada banyak kemungkinan buruk di hadapanku, termasuk yang terburuk sekalipun.

Aku mengembuskan napas, baiklah, telepon ketiga pagi ini.

“Halo, Thom. Bukankah kau baru dua jam lalu meneleponku? Ini membuatku tersanjung. Kau amat perhatian padaku.” Suara Julia terdengar renyah. “Tapi kalau kau bertanya apakah aku sudah bersiap-siap menuju kantor menteri, aku bahkan sudah di gedungnya. Berkumpul bersama belasan wartawan lain yang mencari tahu kabar terakhir. Semoga jadwal pertemuan kita tidak dibatalkan di detik terakhir. Banyak sekali orang yang ingin menemui beliau dalam situasi seperti ini.” 

Aku menyengir, memutuskan tidak bertanya soal itu.

“Kau memang wartawan terbaik review terkemuka, Julia,” aku memuji.

Julia tertawa. “Sepertinya tiga hari lalu, di atas pesawat, kau bahkan melihatku sebelah mata pun tidak, Thom. Aku tidak lebih anak SMA yang baru belajar ekonomi, bukan.”

“Hei, semua orang berubah pikiran, Julia. Lagi pula, kalau kau ingin sebuah hubungan berhasil, entah itu pertemanan, atau lebih dari itu, kau harus terbiasa menyesuaikan diri, selalu berubah.” Aku ikut tertawa. Setelah kejadian ditembaki satu pasukan polisi tadi pagi, bergegas kembali ke dermaga, naik taksi, menelepon Ram dan Erik, percakapan pendek dengan Julia sepagi ini membuatku lebih santai. Mendengar suaranya yang riang, aku lupa kalau kemarin siang kami diborgol bersama.

“Kau tidak sedang menggodaku dengan mengatakan kalimat itu, bukan?” 

Aku menyumpahi Julia dalam hati. “Tidak mudah menggoda gadis seterus terang kau, Julia. Nah, kau pagi ini tidak memakai rok dan blus seperti di pesawat, bukan?”

“Eh? Memangnya kenapa?” 

“Karena aku tidak menjamin kebersamaan kita hari ini akan nyaman seperti pasangan pergi berwisata, Julia. Boleh jadi seperti kemarin siang, ngebut, tangan diborgol, mulut dibekap, dibanting duduk.” Aku menyengir.

“Kalau hanya itu, tidak masalah, Thom. Aku pandai berakting, lebih dari adegan telenovela malah.” Suara Julia masih terdengar santai.

Aku mengusap dahi, membiarkan Julia riang sejenak. “Ini tidak lagi sekadar urusan Fernando-Esmeralda, Julia. Sepagi ini saja, setelah meneleponmu tadi pagi, aku sudah dikejar polisi. Mereka membabi buta menembaki kapal. Om Liem, Opa, tiarap di lantai kabin. Aku harus membalas menembaki mereka agar bisa lolos.”

“Astaga? Tetapi kau baik-baik saja, bukan?” Julia berseru, suaranya berubah cemas. “Eh, maksudku tentu saja kau baik-baik saja, kau meneleponku dengan suara santai.” Dia bergegas menganulir.

“Terima kasih sudah bertanya kabarku, Julia.” Aku tertawa. “Kau amat perhatian kepadaku, jarang sekali ada gadis yang berseru mencemaskanku, padahal tiga hari lalu dia sepertinya bahkan bersedia menimpukku dengan piring kaviar.”

Julia bergumam sebal. “Kau memang pria yang suka membalas, Thomas.”

“Aku tidak membalas, Julia. Aku hanya meniru sikap ketus dan sinis seorang gadis. Kau harusnya kenal sekali siapa dia. Aku baru kenal dia tiga hari terakhir.”

Julia mendengus.

“Nah, semoga kau tidak memakai rok dan blus hari ini, Julia. Jadi, bisa lebih gesit berlari. Sampai bertemu pukul sebelas.” Aku segera menutup percakapan.

Mobil taksi sudah keluar dari tol, langsung menuju kantor pusat Bank Semesta.

Aku harus mengurus nasabah besar, pemilik tabungan dan deposito individu dengan nilai puluhan miliar. Nasabah yang paling terancam jika Bank Semesta ditutup. Tidak sepeser pun uang mereka akan kembali. Sekali mereka bersepakat, urusan dengan putra mahkota dan yang lainnya akan lebih mudah.



*bersambung


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

Rabu, 01 Maret 2017

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 25 - Peluang Tiga Kotak

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------

 USIAKU empat belas tahun saat aku pertama kali mengunjungi Opa. Libur panjang sekolah, membawa ransel kecil di punggung, aku menumpang angkutan umum dari sekolah berasrama.

Malam terakhir di sana, aku dan Opa berdua menghabiskan waktu dengan duduk santai di beranda belakang, menonton televisi, acara kesayangan Opa. Acara kuis, tiga layar terpentang lebar menutupi hadiah, satu peserta yang maju ke babak bonus menghadapi situasi “hidup-mati”, membawa pulang hadiah besar atau kembali dengan tangan hampa. Dialah finalis kuis.

“Satu di antara tiga layar ini adalah sebuah mobil mewah terbaru.” Pembawa acara memasang wajah semringah, menunjuk layar televisi besar yang segera menayangkan bentuk dan rupa mobil itu.

Penonton di studio bertepuk tangan antusias. Wajah finalis kuis menyimpul senyum.

“Satu lagi adalah seekor sapi perah yang gemuk.” Pembawa acara tertawa.

Penonton di studio ikut tertawa.

“Ayolah,” pembawa acara mengangkat bahu, “saya tidak bergurau. Sungguhan seekor sapi. Kami menyediakan truk besar untuk membawanya pulang nanti.”

Penonton di studio tertawa lagi, finalis kuis manggut-manggut tertawa pelan.

Aku ikut tertawa, meletakkan garpu ke atas piring---pembantu rumah Opa memasak menu lezat untuk menemani malam santai. Di sekolah berasrama jangankan menonton, televisi satu pun tidak ada di sana. Terlepas dari fakta itu, aku segera mengerti, pantas saja Opa suka menonton acara kuis ini, menarik. Lihat, Opa sudah terkekeh di sebelahku.

Pembawa acara mengangkat tangan, menyuruh penonton di studio diam sejenak. Musik latar terdengar lebih cepat. “Nah, sayangnya, pemirsa di rumah dan hadirin di studio, satu layar lagi, tentu saja, menutupi sebuah kotak sampah.” Layar televisi besar segera menunjukkan kotak sampah berwarna kuning yang sering kalian lihat di trotoar jalanan.

Penonton di studio tertawa---meski tidak sekencang soal sapi tadi.

Finalis kuis tersenyum---meski senyumnya sekarang terlihat kecut.

“Baiklah, mari kita bermain, kau pilih layar yang mana, Kawan. Satu, dua, atau tiga?” Amat bergaya pembawa acara menawarkan kesempatan pertama pada finalis.

Permainan babak terakhir telah dimulai.

Lima menit berlalu tegang. Finalis memilih layar satu.

“Kau yakin?”

Finalis kuis mengangguk.

“Baik kita kunci layar satu.”

Hadirin di studio bertepuk tangan menyemangati.

“Kalau begitu, tolong dibuka layar nomor dua, layar yang tidak dia pilih.” Pembawa acara memberi perintah. Layar dua segera tergulung ke atas.

Aku terpingkal bersama Opa, juga bersama penonton di studio---sampai melupakan wajah supertegang finalis yang merangkai doa. Di balik layar dua, sungguhan seekor sapi gemuk terlihat gelisah. Moncongnya diikat rapat, seorang peternak andal sejak tadi berdiri di sebelah mengelus-elus pundaknya, agar dia diam dan tidak membuat pertanda ada seekor sapi di balik layar dua.

“Bukan main. Mari kita lupakan sapi perah barusan. Permainan ini semakin menarik.” Pembawa acara menghela napas.

“Tersisa dua layar, Kawan. Satu adalah mobil mewah terbaru. Satu lagi adalah kotak sampah berwarna kuning.” Pembawa acara mengangkat tangan ke atas, memberi tanda.

Penonton di studio kembali hening. Wajah finalis semakin tegang.

“Kau sudah memilih layar nomor satu. Apakah kita akan membuka layar nomor satu sekarang?”

Penonton berseru-seru antusias, mengangguk.

Pembawa acara tertawa, menggeleng takzim. “Kita buat acara ini lebih menarik.”

Penonton justru semakin berseru-seru antusias.

“Saya tidak tahu layar mana yang menyembunyikan mobil mewah itu, Kawan. Percayalah. Hanya Tuhan dan beberapa orang di belakang studio yang tahu. Bahkan keputusan di mana mobil itu berada, baru dilakukan beberapa menit sebelum babak bonus. Nah, karena saya tidak tahu, semua orang di sini juga tidak tahu, aku akan memberikan kau kesempatan menukar pilihan. Tetap di layar nomor satu? Atau pindah ke layar nomor tiga?”

Aku menelan ludah, benar-benar melupakan makanan lezat di atas piring---padahal makanan di sekolah asrama tidak pernah selezat ini. Mataku sempurna tertuju ke layar kaca.

“Tetap di layar satu atau pindah ke layar tiga, Kawan?” Pembawa acara mendesak, mengulangi pertanyaan kesekian kali, sudah dua menit berlalu tanpa keputusan.

“Pindah.” Terdengar jawaban mantap. Tetapi itu bukan jawaban finalis kuis. Itu suara Opa di sebelahku.

Aku menoleh, menatap wajah Opa yang terlihat begitu yakin.

“Kalau kau dalam situasi seperti ini, kau akan pindah, Tommi.” Opa menjawab santai.

“Bagaimana Opa tahu?”

“Pindah saja. Insting.”

“Tapi Opa tidak tahu di mana mobilnya, bukan?”

“Karena itulah. Ketika tidak ada yang tahu, permainan berjalan adil dan sebagaimana mestinya, maka seorang penjudi ulung, seorang petaruh berpengalaman akan memilih pindah.”

“Kenapa?” Aku mendesak.

Opa terkekeh. “Mana Opa tahu, Tommi. Itu hanya naluri, sekadar insting seorang petaruh.”

Waktu itu, umurku baru empat belas, aku tidak paham naluri dan insting yang dikatakan Opa---meski aku tahu sekali, sejak memutuskan mengarungi lautan, mengungsi dari tanah kelahirannya, Opa tumbuh menjadi pelaku bisnis yang hebat, petaruh sejati.

Aku baru tahu penjelasan itu di sekolah bisnis.

Salah seorang guru besar, yang juga penjudi ulung di Texas---pekerjaan sampingan selain akademisi---memberikan kasus yang sama. Ada tiga kotak di depan kelas, di manakah yang berisi selembar tiket pesawat?

Profesor itu menunjukku, memintaku bermain.

Aku menyeringai. Di bawah tatapan puluhan pasang mata peserta mata kuliah matematika bisnis tingkat lanjut yang antusias, aku sembarang menunjuk kotak. Hanya permainan memperebutkan tiket, bukan hidup-mati seperti peserta kuis sepuluh tahun lalu yang aku tonton bersama Opa.

Profesor mengangkat kotak lain yang tidak kupilih, kosong. Dia tertawa. “Nah, Thomas, sekarang tinggal dua kotak tersisa. Kau akan tetap memilih kotak sebelumnya, atau kau akan pindah?”

Ruangan kelas menjadi sedikit tegang.

Saat itulah, ilham pengetahuan itu masuk ke kepalaku, Opa benar sekali, aku dengan santai bilang. “Pindah.”

Ruangan besar kelas kami dipenuhi seruan.

Profesor mengedipkan matanya, menyuruh mereka diam.

“Kenapa kau memilih pindah, Thomas?”

Aku tertawa pelan, mengusap wajah. Entah bagaimana caranya, aku paham seketika teori berjudi Opa. Bukan karena naluri, melainkan karena setelah sepuluh tahun berlalu, belajar banyak hal, berada dalam kelas yang mengagumkan ini, penjelasan itu datang sendiri di kepalaku, sungguh bukan insting.

Penjelasannya amat sederhana. Ada tiga kotak, itu berarti kemungkinan kalian memenangkan pertaruhan adalah 33,3%, alias sepertiga. Itu kemungkinan yang rendah, bahkan di bawah 50%, permainan “ya” atau “tidak”. Ketika aku memilih salah satu kotak, lantas profesor di depanku membuka kotak lain yang ternyata kosong, maka kemungkinanku sekarang adalah 50%, bukan? Apakah aku akan pindah? Ingat rumus ini: Jika kalian tetap di pilihan sebelumnya, variabel baru yang hadir dalam permainan tidak diperhitungkan. Jika kalian tetap di pilihan pertama, dengan dua kotak tersisa, kesempatan kalian untuk menang sesungguhnya bukan 50%? Melainkan tetap 33,3%, karena kalian tetap memilih kotak yang sama dari tiga kotak sebelumnya.

Pindah! Lakukan segera, tutup mata. Dengan demikian, kalian memasukkan variabel baru dalam permainan. Berapa kesempatan kalian menang? 50%? Tidak, kalian menjadikannya 66,6%. Ada tiga kota dalam permainan, dan kalian diberikan kesempatan memilih dua kali. Apakah kalian otomatis akan memenangkan permainan? Tentu tidak, masih ada 33,3% kemungkinan kalah. Tetapi kemungkinan 66,6% jauh lebih baik. Aku tidak akan seperti peserta kuis yang keukeuh sekali dengan pilihan awal, resisten sekali mengubah pilihan. Aku memilih pindah.

Ruangan kelas lengang sejenak setelah penjelasanku.

Profesor menatapku tajam. “Kau yakin, Thomas?”

Aku tersenyum simpul. Ini mata kuliah matematika bisnis tingkat lanjut, aku sama sekali tidak berjudi, aku menggunakan logika. Tentu saja teori ini hanya berlaku jika lawan bermain kalian tidak curang. Kalau pembawa acara kuis tahu di mana mobil itu berada, dia bisa menipu peserta dengan membujuk-bujuk, memanipulasi kalimat-kalimatnya, hingga peserta terkecoh.

“Buka saja, Prof.” Aku tertawa.


***
Tidak ada pertaruhan hidup-mati di meja judi, semua soal persentase dan logika. Maka jika di meja judi saja tidak ada, apalagi di dunia nyata.

Tidak ada skenario Russian roullette dalam kehidupan nyata. Kita selalu saja punya kesempatan untuk memanipulasi situasi, bertaruh dengan sedikit keunggulan.

Orang Cina bijak zaman dulu bilang, tempat yang paling aman justru tempat paling berbahaya, dan sebaliknya tempat yang paling berbahaya justru tempat yang kalian pikir paling aman. Itu benar sekali. Ahli strategi perang masyhur Cina itu, ketika menemukan pertama kali kalimat bijak ini, boleh jadi tidak dibekali dengan ilmu matematika tingkat lanjut, tapi dia jelas memiliki pengalaman panjang, naluri serta insting seperti yang dikatakan Opa sepuluh tahun lalu.

“Putar haluan, Kadek!” aku berteriak, berlari-lari kecil menaiki anak tangga.

“Ya, Pak Thom?” Kadek menatapku bingung, kami sudah belasan kilometer meninggalkan dermaga yacht Sunda Kelapa, kabur dari polisi yang membabi buta menembaki kapal.

“Kita kembali ke Jakarta,” aku menjawab dingin.

Kadek menelan ludah.

“Lakukan saja, Kadek.” Aku mengangguk yakin.

Lima menit lalu aku memastikan Opa dan Om Liem baik-baik saja. Seluruh kapal juga baik. Mesin, sistem sanitasi, air, gudang, logistik, dan sebagainya baik. Lima menit aku berpikir cepat, tidak, lari ke Manila hanya membuat situasi semakin buruk.

Aku akan mengambil mata dadu terbaik dalam pertarungan ini. Kembali ke Jakarta.

Profesor sekolah bisnis menepuk bahuku setelah kelas usai. Ruangan besar lengang. “Kau muridku yang paling brillian, Thomas. Tidak sekadar soal logika, tapi gestur wajah, senyuman, bahkan tatapan mata yang berkelas. Itu tiket pulang-pergi ke Texas, Thomas. Kalau kau mau, kau bisa bergabung bersamaku menaklukkan kasino-kasino besar di sana. Kita bertaruh dengan kemenangan di tangan. Kau bisa membawa pulang ratusan ribu dolar dari kunjungan singkat dua hari di sana. Mau?”
Aku tertawa. “Aku harus mengerjakan paper dari Anda, Prof.”


*bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.