Selasa, 07 Maret 2017

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 32 - Sandera yang Berharga

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------


“INJAK remnya, Tommi.” Opa yang duduk di sebelahku berseru, mengingatkan.

“Eh?” Aku menoleh, menelan ludah, sedikit gugup.

“Injak remnya, Tommi! Remnya!” Opa berseru lebih kencang.

“Sudah, Opa! Sudah kuinjak remnya!” aku balas berteriak, panik, mobil yang kukemudikan bukannya melambat, malah semakin cepat menuruni halaman belakang rumah.

“Remnya, Tommi, astaga, kau justru menginjak gasnya!” 

“Sudah kuinjak! Mobilnya tidak bisa berhenti! Eh, sebenarnya remnya yang mana, Opa?”

“Yang tengah, Tommi! Injak remnya!” Opa berseru panik, dengan cepat menyambar kemudi, berusaha membanting mobil ke kanan.

Terlambat, mobil melaju terlalu kencang, sedetik sudah menghantam gundukan taman. Mobil kodok klasik itu seperti kodok sungguhan melompat. Aku terenyak, terbanting, kepalaku membentur kemudi, suara klakson terdengar nyaring tidak sengaja terkena dahiku. Opa yang berusaha membantu mengendalikan mobil, mengaduh tertahan, siku kiriku menghantam wajahnya. Urusan semakin kapiran, lepas gundukan tanah, menerabas barisan bunga bougenvile yang segera porak-poranda, mobil tidak terkendali terus meluncur ke bibir waduk.

Dan sebelum kami bisa melakukan apa pun, mobil berdebum loncat ke dalam air, dengan cepat tenggelam. Gelembung udara menyeruak permukaan air.

“Keluar, Tommi! Cepat keluar dari mobil!” Opa menggerutu, berteriak---dengan masih meringis menahan sakit dan kaget. Opa berusaha membuka daun pintu, terkunci, macet.

Aku lebih cepat, sudah mendorong pintu mobil sebelah kanan, mobil sudah separuh tenggelam di sisiku, segera berenang ke sebelah Opa, membantunya menjebol pintu.

Adalah dua menit berkutat, Opa berhasil keluar, aku menyeretnya ke tepi waduk.

“Dasar anak ceroboh, kau hampir membuat kita celaka. Untuk kesekian kalinya.” Opa bersungut-sungut, badannya basah kuyup, napasnya tersengal.

Aku tertawa, membungkuk, memegangi pahaku yang nyeri terhantam entahlah tadi.

“Kau jangan pernah memintaku mengajari mengemudi lagi.” 

“Ini seru, Opa. Hebat.”

“Omong kosong, kau membuat mobil klasikku tenggelam di waduk.” Opa berseru sebal

“Namanya juga kodok, Opa.” Aku menyengir.

Opa mengacungkan tinju, marah.

“Kemarin lusa kau menabrakkan speedboat, kemarinnya lagi kau mematahkan kail kesayanganku, belum terhitung kaca jendela rumah yang pecah, anjungan dermaga somplak, atap genteng pecah. Aku tidak mau lagi mengajarimu apa pun. Kau sama seperti papamu dulu. Perusak nomor satu.” Opa mendengus, mendorong pelan bahuku, menyuruh menyingkir, lantas melangkah ke beranda rumah.
Aku mengibaskan rambut, tertawa lagi.

Tetapi Opa bergurau. Setelah ditertawakan Tante yang hari itu juga datang ke rumah peristirahatan, kami berganti baju kering, menghabiskan kue lezat buatan Tante di beranda belakang, Opa sudah lupa urusan mobil kodok itu. Staf rumah peristirahatan mengontak pemilik alat berat. Belalai pengeduk tanah itu tiga jam setelah kejadian sudah terjulur ke waduk, beberapa penyelam mengikat mobil di dalam air, berusaha menariknya keluar. 

“Kau besok mau melakukan apa lagi, Tommi?” Opa bertanya. Kami asyik menonton proses evakuasi mobil kodok.

“Belajar mengemudi lagi, Opa.”

“Astaga!” Opa menepuk jidatnya. “Tidak mau. Kau jangankan menyentuh mobilku, berada dekat dengan garasi saja tidak boleh, setidaknya hingga berusia delapan belas.”

“Kau membantu Tante masak saja, Tommi. Akan kuajari membuat kue-kue. Siapa tahu berguna saat kau kembali ke sekolah.” Tante ikut bicara, duduk di salah satu kursi santai, menyeduh teh hijau.

Opa terkekeh. “Ide bagus, lebih baik kau belajar memasak saja. Risikonya lebih kecil.”

Aku memonyongkan bibir. “Bukankah Opa sudah berjanji akan mengajariku apa saja?”

“Enak saja, janji itu batal dengan sendirinya kalau kau merusak sesuatu.” Opa melambaikan tangan, menunjuk mobil kodoknya yang mulai ditarik keluar dari permukaan waduk. Orang-orang berseru memberi aba-aba, belalai penciduk tanah itu sedikit bergetar.

Kami kembali asyik menonton.

Tetapi lagi-lagi tentu saja Opa bergurau, esok pagi-pagi kami sudah asyik belajar menembak.

Opa meminjamiku pistol tua, memberikan penutup telinga, lantas kami sibuk dar-der-dor di halaman kanan rumah yang disulap jadi tempat latihan tembak dadakan. 

Itu untuk kedua kalinya aku berkunjung ke rumah peristirahatan Opa, liburan sekolah. Usiaku belum genap lima belas. Opa semangat menyusun jadwal agar aku betah, membuatku melupakan banyak hal, apalagi untuk sekadar bertanya tentang kejadian masa lalu. Aku tidak keberatan, lagi pula aku tidak tertarik membahas kenangan buruk itu.

“Dari mana Opa belajar menembak?” Kami sedang beristirahat, duduk di dermaga, betis terendam di dinginnya air waduk.

“Kalau kau bertanya demikian, berarti kau mau bilang orang tua ini termasuk jago menembak, Tommi.” Opa tertawa senang.

Aku menyengir.

“Otodidak, Tommi. Tidak ada yang mengajari orang tua ini.” 

“Mengemudi speed? Merawat mobil?” Aku menguap, berusaha mengisi sesuatu dengan percakapan.
“Itu juga otodidak, Tommi. Sama seperti bermain musik, meskipun dalam bidang itu Opa tidak berbakat sama sekali.” Opa tertawa.

“Berbisnis?”

“Ya, sama seperti berbisnis. Mana ada sekolah bisnis pada zamanku masih muda. Aku lulus sekolah rakyat pun tidak. Semuanya dipelajari sendiri. Dicoba, gagal. Dicoba, gagal lagi. Terus saja kaulakukan. Lama-lama kau tahu sendiri bagaimana seharusnya trik terbaik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Itu adalah sekolah terbaik. Apa kata bijak itu? Pengalaman adalah guru terbaik.”

Aku mengangguk. “Aku akan menjadi otodidak seperti, Opa.”

Opa mengacak rambutku. “Itu bagus. Sepanjang kau punya semangat untuk itu, kau bisa ahli dalam banyak hal tanpa harus duduk di kelasnya.”

Kami diam sejenak, sebuah perahu nelayan melintas, beberapa penumpangnya melambai. Opa balas melambai.

“Hanya saja, esok lusa, dunia akan berubah banyak, Tommi.” Opa menatap hamparan permukaan waduk yang kembali lengang setelah perahu tadi pergi, kabut turun membungkus pebukitan.

“Hari ini, misalnya, semua pebisnis seperti Opa memilih hidup susah untuk mengumpulkan modal. Menahan diri untuk belanja, agar tabungan cukup untuk memperbesar bisnis, bersabar, konsisten, hati-hati. Esok lusa, orang-orang lebih memilih meminjam uang di bank, menerbitkan surat utang, atau jenis utang-utang lainnya. Mereka tidak sabaran dan mengambil risiko. Saat mereka gagal membayar utang, mereka akan menutupnya dengan pinjaman yang lebih besar.”

Aku mengangguk---meski belum mengerti kalimat Opa. Aku baru tahu saat mengambil kuliah, di kelas-kelas manajemen keuangan modern, kalian akan dicekoki dengan dogma: Meminjam lebih baik daripada mengeluarkan modal sendiri. Secara teoretis, “pengungkitnya” lebih besar.

“Hari ini, misalnya juga, semua pebisnis hanya mengurus preman-preman, pungutan-pungutan dari pejabat rendahan, tikus-tikus busuk kelas bawah, makelar murahan. Esok lusa, bahkan anggota dewan terhormat menjadi calo, tidak beda dengan calo tiket di stasiun kereta. Pejabat tinggi menjadi penghubung, dan tidak terhitung aparat keamanan yang seharusnya melindungi, siap menggebuk bisnis kita jika tidak mendapat bagian.”

Aku lagi-lagi hanya mengangguk.

“Nah, semoga kalau kau nanti otodidak, kau akan lebih hebat dibanding Opa. Situasi kau berubah, masalah kau juga berubah. Dicoba, gagal, dicoba lagi, gagal lagi, jangan pernah putus asa, mengeluh, apalagi berhenti dan melangkah mundur. Kau mewarisi darah seorang perantau, mewarisi tabiat seorang pejuang tangguh, Tommi. Tidak terbayangkan, ribuan kilometer opamu ini menaiki perahu kayu tua, bocor....”

“Tante memanggil kita,” aku memotong kalimat Opa.

“Eh?” Opa menoleh ke beranda belakang, dia tidak mendengar apa pun.

“Opa tidak mendengar suara Tante?”

Opa menggeleng, tidak mengerti.

“Kata Tante, makan siang sudah siap. Tommi duluan.” Aku sudah lompat berdiri. Sebelum Opa menyadarinya, aku sudah berlari-lari kecil melintasi dermaga. Kakiku yang basah membentuk barisan jejak telapak kaki.

Opa menggerutu, meneriaki dasar anak tidak tahu sopan santun.

Aku tertawa, sudah mendorong pintu belakang. Sepagi tadi saja, Opa sudah dua kali bercerita tentang perahu nelayan bocor itu. Tiga kali bahkan belum tengah hari, itu berlebihan.


***



Opa benar.

Tanpa kita sadari, dalam hidup ini, potongan-potongan kecil menjadi tempat kita belajar sesuatu dengan efektif. Misalnya, anak kecil belajar mengendarai sepeda, hanya karena teman bermainnya membawa sepeda, dan dia iseng mencoba, orangtuanya terpesona saat tahu anaknya sudah bisa mengendarai sepeda. Dalam kasus lebih ekstrem, anak kecil usia tiga-empat tahun dibiarkan sendirian menonton acara televisi yang mengajari membaca, dan dia fokus memperhatikan---entah bagaimana konsentrasi itu datang, orangtuanya terpesona saat tahu anaknya bisa membaca tanpa pernah diajari.

Ada banyak momen-momen spesial ketika kita belajar sesuatu. Termasuk saat kita sudah remaja atau tumbuh dewasa. Kata Opa, melakukan perjalanan, bertemu dengan banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan banyak hal, adalah cara tercepat belajar. Kau bisa jadi tukang kayu yang baik jika berhari-hari mengunjungi lapak tukang kayu yang sedang sibuk membuat meja, kursi, pintu, dan sebagainya. Kau juga bisa menjadi tukang las, tukang cat, pembalap, penembak, penjahat, atau apapun jika kau menghabiskan waktu bersama orang-orang dengan profesi itu. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadarinya, menghabiskan hari dengan rutinitas itu-itu saja tapi pengetahuannya tidak berkembang. Bagaimana mungkin, misalnya, kau setiap hari menumpang kereta, tapi kau tidak pernah tahu bentuk ruangan masinis, Opa terkekeh, “Kalau kau otodidak yang baik, kau bahkan sudah bisa mengemudikan kereta, Tommi.”

Aku belajar banyak hal dari kunjungan singkat ke rumah peristirahatan itu setiap liburan sekolah. Tidak sempurna otodidak, Opa mengajariku dengan cara uniknya. Apa saja, termasuk keahlian kecil yang kadang buat apa pula kupelajari.

“Esok lusa, kau akan tahu apa gunanya, Tommi.” 

Aku mengangguk, aku selalu percaya kalimat Opa.

Dua puluh tahun berlalu, hari ini, di lobi parkiran gedung kementerian yang ramai, setelah menemui menteri yang kukuh itu, berlari-lari kecil bersama Julia, kalimat itu menemukan konteksnya.

Telepon genggamku berbunyi. Langkah kaki melamban. Dari layar telepon genggam aku tahu Maggie yang menelepon.

“Hallo, Maggie, cepat sekali kau sudah meneleponku? Kau sudah di kantor? Tiketnya sudah siap? Atau ada sesuatu yang hendak kaulaporkan.” 

“Halo, Thomas.”

Itu jelas bukan suara Maggie. Langkah kakiku sempurna terhenti.

“Sepertinya kami terlalu meremehkanmu.” Tertawa fals.

Julia hampir menabrakku, menggerutu, wajah sebalnya bertanya, siapa yang menelepon.

“Kau punya waktu lima belas menit, Thomas. Menyerahkan diri. Kami menunggu di kantormu yang mewah ini. Atau stafmu yang begitu cekatan ini esok lusa sudah bergabung dengan penghuni penjara perempuan. Ah, itu tidak seru, bagaimana kalau dengan sedikit intrik licik, kujebloskan saja ke penjara laki-laki, bagian tahanan khusus untuk para penjahat, pembunuh, dan pengedar obat-obatan terlarang. Ide bagus, bukan?”

Aku membeku.



*bersambung

*bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

Jangan Fokus Hanya Pada Uang!



Hai,

Ada begitu banyak orang yang saya temui, memiliki sebuah penyakit yang sama. Yaitu gila dengan HARTA. Mereka fokus pada uang, uang, dan uang sampai lupa segalanya #bahaya

Padahal uang hanyalah sebuah alat tukar, sekali lagi hanya sebuah alat tukar. Yang memberi arti adalah sang pemilik uang.

Jika hanya uang yang dikejar selama hidup, maka keberkahan tidak akan datang.

Ada begitu banyak orang kaya yang miskin hatinya... jauh dari Tuhan & orang disekitarnya.

Pastikan ini jadi pengingat diri, agar kita bisa selalu berkaca dan memanfaatkan hidup sebaik mungkin :)


Hidup hanya sekali, 
Beri manfaat berkali - kali
Mati itu pasti,
Semua yang ada di dunia hanyalah titipan dan tak dibawa mati.
Mengejar mimpi boleh saja,
Asal tak lupa dengan daratan.

Jadi apa yang lebih baik?
Kaya & bermanfaat !

Share Jika Bermanfaat Ya !

Mau Makan Gengsi?



Kalau belum sanggup beli rumah, ngontrak aja dulu ! Gak usah gengsi !

Kalau belum sanggup beli mobil, naik motor aja dulu ! Gak usah gengsi !

Jangan maksakan diri sendiri supaya bisa dipandang orang lain, gak usah pakai GENGSI udah ga zaman & nyusahin diri sendiri !

Saya salut sama orang - orang yang selalu berproses & tahan banting. Ga perlu dengerin omongan orang sampai bela - belain buat beli ini itu dan terlihat KAYA

Cukupkan dulu saja untuk keluarga & bisnis.

Apa yang kita punya saat ini tak dibawa mati, jangan sampai kita tergila dengan harta dunia, karena semua itu hanya titipan ! Ingat hanya titipan !

Sebagai informasi, sampai saat ini kantor pertama & kedua juga saya masih sewa!

Saya masih di gaji di perusahaan saya setiap bulannya, profit setiap bulan masih digunakan untuk cashflow bisnis. Pelan - pelan saya sudah bisa beli asset - asset seperti mobil, mesin, biaya operasional untuk puluhan karyawan saya dan lain - lain. Itu bukan untuk saya, tapi untuk bisnis saya 🙂 Kaya atau miskin itu hanya soal MINDSET

Saat mendapatkan uang, ada orang yang memutuskan untuk berfoya - foya menghabiskan uang, ada juga yang memanfaatkan uang untuk berinvestasi & berbagi untuk orang banyak

Kaya itu juga bukan soal seberapa banyak harta yang dimiliki, tetapi tentang seberapa banyak harta yang didistribusikan

Saat penghasilan terus bertambah, kebutuhan harus tetap sama !

Tidak punya uang hanyalah keadaan sementara, kita masih punya tenaga & waktu untuk mendapatkannya

Share Jika Bermanfaat Ya !

Senin, 06 Maret 2017

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Epside 31 - Prinsip dan Keputusan


Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------

RUANGAN menteri, untuk seseorang yang disebut salah satu wanita paling perkasa di Asia menurut majalah terkemuka itu, terlihat sederhana. Aku dan Julia (yang masih berusaha memulihkan tampang masam karena dipanggil Nenek Lampir) terus melangkah menuju meja kerjanya. Menteri sudah berdiri sejak melihat kami masuk. Wajahnya datar, tanpa senyum---siapa pula yang bisa tersenyum dengan gejolak krisis dunia.

“Selamat pagi.” Dia lebih dulu menjulurkan tangan, sikap khas seorang gentleman---meski jelas dia seorang woman.

Aku mengangguk takzim, berjabat tangan, memperkenalkan diri. Julia menyusul kemudian.

“Maaf, kami terlambat beberapa detik,” aku basa-basi.

“Tidak masalah,” Menteri mengangguk, berkata cepat dengan intonasi tegasnya, “walaupun terlambat adalah terlambat. Tidak ada bedanya terlambat beberapa detik dengan terlambat beberapa jam, bukan. Tetapi lupakan saja, silakan duduk.” Menteri menunjuk sofa simpel berwarna gelap di ruangannya. Meja kecil di depan sofa dipenuhi tumpukan berkas.

Aku menelan ludah tanggung, benar-benar tipikal pejabat tinggi yang suka berterus terang. 
Julia melirikku---lirikan yang jelas menyalahkanku.

Telepon di meja kerjanya berbunyi---menyelamatkan situasi kebas barusan. Menteri mengangguk kepada kami, meminta izin sejenak, dan sebelum kami balas mengangguk dia sudah melangkah cepat ke meja, mengangkat gagang telepon, dan sekejap sudah terlibat percakapan seru berbahasa Inggris mengenai situasi terakhir krisis subprime mortgage di luar sana. Aku sungguh berusaha tidak menguping---karena meskipun aku seorang bedebah, itu melanggar etika mana pun, tetapi Julia dengan senang hati menulis beberapa kalimat penting yang terdengar lantang. Aku menyikut Julia. Dia mengangkat bahu, memasang wajah tanpa dosa.

“Itu dari salah satu analis dana moneter internasional, IMF,” Ibu Menteri sudah kembali, beranjak duduk di hadapan kami, “kolega dekat, dia berbaik hati memberikan briefing kabar terbaru. Oh iya, tidak masalah bukan kalau wawancara kita diselingi pekerjaan, satu-dua telepon? Susah sekali menyisihkan waktu tiga puluh menit dalam situasi seperti sekarang.”

Aku dan Julia (tentulah) mengangguk---kompak, berbarengan. 

“Ini situasi rumit, kalian lebih dari tahu. Tadi malam ketika Shambazy menelepon, meminta jadwal audiensi mendadak, saya sebenarnya keberatan. Sayangnya, saya tidak pernah bisa menolak permintaan Shambaz. Dia teman baik sejak kuliah, ketua senat kami.” 

“Aku baru tahu kalau Pak Shambaz pernah jadi ketua senat,” Julia memotong sopan.

Ibu Menteri memperbaiki posisi duduk. “Dia bukan sekadar ketua senat. Tetapi Shambazy tidak pernah tertarik bekerja menjadi birokrat, lebih memilih berkarier menjadi wartawan, lebih nyaman dan tenang mengomentari banyak hal. Tidur lebih nyenyak. Menjadi menteri yang berdedikasi penuh tidak pernah sesederhana seperti masa lalu. Stres, tekanan politik, kritik, hujatan, sorotan media massa, itu makanan sehari-hari.”

“Tetapi Ibu terlihat selalu segar.” Julia memuji---basa-basi yang keliru.

Ibu Menteri menanggapi pujian itu dengan tersenyum tipis. “Kau tidak akan bertanya tentang trik tampil segar dan cantik seperti wartawan lain dalam jadwal wawancara sepenting ini, bukan?”
“Eh?” Julia menelan ludah, kikuk. 

“Tentu tidak, Bu.” Aku tertawa sopan, menyikut Julia agar diam, bergegas memperbaiki situasi. Untuk seseorang yang amat berpengaruh, suka berbicara lugas, percakapan basa-basi bisa merusak. “Tetapi karena rekan kerjaku sudah telanjur, bolehlah kutambahi satu lagi pemanis awal pembicaraan, aku pikir Ibu dulu pastilah seorang pemain bola kasti yang pintar berkelit.” 

“Bola kasti?” Menteri bertanya balik.

“Ya, bola kasti. Di bawah ada puluhan wartawan dengan wajah tidak sabaran menunggu Ibu sejak tadi pagi. Nah, tidak ada satu pun di antara mereka yang punya ide kalau ternyata yang ditunggu sudah berada di ruangan kerjanya. Itu pastilah trik berkelit yang hebat seperti pemain bola kasti yang berlari menghindari terkena bola, bukan.” Aku memasang wajah sungguh-sungguh.

Ibu Menteri sejenak diam, lantas tertawa renyah. “Bola kasti, astaga, itu sungguh pemanis awal percakapan yang orisinil. Kau jelas bukan wartawan kebanyakan. Siapa namamu tadi?”

“Thomas, Bu.” Aku tersenyum.

“Ya, Thomas, itu mudah saja kalau kau sering diburu wartawan, tidak perlu trik istimewa. Ada beberapa pintu masuk di gedung ini, kau tinggal parkir mobil di luar, berjalan kaki seperti orang kebanyakan, menyelinap lewat pintu belakang, beres. Dan ngomong-ngomong soal bola kasti, waktu SD, saya pemain yang buruk sekali, Thomas. Berkali-kali kena timpuk bola, menjadi sasaran teman lelaki yang lebih besar. Hei, siapa pula di antara kita yang tidak pernah main bola kasti sewaktu kecil? Padahal bolanya itu untuk bermain tenis lapangan, bukan.”

Kami menghabiskan lima menit pertama untuk nostalgia. Sepertinya itu menjadi selingan yang menarik bagi Ibu Menteri dibanding dipuji terlihat selalu cantik dan segar. 

“Rapat komite akan diadakan sore ini, segera setelah semua anggotanya berkumpul. Kalian wartawan pertama yang mendengar konfirmasi ini.” Ibu Menteri menjawab pendek pertanyaan pertama Julia. Wawancara telah dimulai, lima menit kemudian.

“Belum tahu. Rapat akan dilakukan maraton sepanjang malam hingga keputusan diambil. Ini boleh jadi salah satu proses pengambilan keputusan yang melelahkan.” Jawaban atas pertanyaan kedua Julia.

“Seandainya Bank Semesta tidak diselamatkan, apakah Pemerintah sudah siap mengatasi?” 

“Saya tidak suka berandai-andai,” Ibu Menteri memotong kalimat Julia, sambil memperbaiki posisi duduknya, “bahkan keputusan mengenai Bank itu saja belum diambil.”

“Tetapi situasi terburuk bisa terjadi, bukan? Mengingat situasi di luar semakin buruk menyusul tumbangnya beberapa lembaga keuangan besar,” Julia mendesak sopan.

“Soal situasi di luar semakin memburuk, itu benar, terlepas dari kau sepertinya ikut menguping briefing dari staf dana moneter internasional tadi. Tetapi perekonomian kita berbeda dengan mereka. Catat ini, fundamental perekonomian kita jauh lebih tangguh, baik dibandingkan dengan negara luar, maupun dibanding saat krisis menghantam kita satu dekade silam. Pertumbuhan ekonomi sesuai target, surplus neraca perdagangan mencatatkan rekor, sistem berjalan stabil, kebijakan fiskal optimal, semua terkendali, semua lebih mature.”

“Tetapi kemungkinan rush, dampak sistemis yang dikhawatirkan media massa dan pengamat ekonomi dua hari terakhir? Bukankah itu sinyal berbahaya.”

“Sepertinya tidak ya, situasi kita jauh berbeda.” Ibu Menteri menjawab ringan.

“Bukankah indeks saham tumbang seminggu terakhir?”

“Itu masih reaksi yang wajar. Siapa yang tidak ingin bergegas melepas sahamnya? Apalagi sebagian besar pemodal di bursa datang dari dana asing. Mereka cepat pergi dalam situasi ini, menjual rugi. Tetapi pemodal lokal kita masih wait and see, masih membeli saham.”

“Atau nilai tukar yang bergerak cepat, terus melemah?” Julia tidak mudah mengalah.

“Itu juga reaksi normal. Semua mata uang dunia bergerak fluktuatif. Pihak bank sentral punya penjelasan lebih baik. Tetapi menurut saya tetap saja situasi masih terkendali.”

“Jika demikian, apakah Ibu Menteri memilih membiarkan Bank Semesta ditutup?” Aku akhirnya ikut bertanya, tidak sabaran dengan prosesi wawancara Julia, saatnya langsung ke topik paling penting.

“Rapat komite baru dimulai nanti sore, Thomas.” Ibu Menteri melambaikan tangan, gerakan khasnya. “Sudah kukatakan dua kali. Kau termasuk pelupa untuk orang semuda kau.”

“Ibu benar, baru nanti sore. Tetapi kita terkadang telah mengambil keputusan bahkan sebelum keputusan itu dibuat. Rapat, diskusi, dengar pendapat, itu terkadang hanya proses mencari argumen, alasan sebuah keputusan, bukan untuk mengambil keputusan itu sendiri,” aku berkata dengan intonasi datar terkendali, menatap lurus ke arah wajah Menteri. 

Ruangan menjadi lengang sejenak.

Ibu Menteri balas menatapku, tersenyum tipis. “Kau memang tidak seperti wartawan kebanyakan, Thomas.”

“Apakah Ibu sudah memutuskan?” Aku tersenyum, memastikan.

“Baiklah. Tetapi bagian yang ini off the record, pastikan kalian tidak mengutipnya dalam berita. Kau bertanya apakah saya secara personal memilih membiarkan Bank Semesta ditutup? Justru saya akan bertanya balik, apa untungnya bank itu diselamatkan? Dalam teori ekonomi modern, pemberian subsidi, penetapan harga tertentu, pengenaan kebijakan fiskal untuk melindungi sebuah industri, dan sebagainya, adalah merupakan pilihan terakhir. Kita selalu membiarkan pasar bekerja sendiri, apa adanya. Banyak orang bilang saya penganut neolib, bukan? Kaki tangan kapitalis. Terserah. Tetapi mereka lupa, mengendalikan perekonomian sebuah negara besar membutuhkan disiplin tinggi, konsistensi, teori, serta pengetahuan yang memadai. Kita tidak sedang bicara di lapak becek, sambil tertawa santai. Saya bertanggung jawab penuh memastikan perekonomian negara dengan penduduk 240 juta orang berjalan baik.

“Apa untungnya menalangi Bank Semesta bagi Pemerintah? Bukan sekadar angka dana talangan dua triliun--pihak bank sentral baru saja merevisi angkanya--- bukan pula soal uang itu lebih baik diberikan untuk membangun ribuan sekolah, misalnya, bukan pula tentang kabar kalau pemilik bank melakukan kejahatan dan manipulasi keuangan---meskipun di laporan bank sentral tidak disebutkan, tetapi lebih karena apakah keputusan menyelamatkan Bank Semesta sesuai dengan disiplin, konsistensi kebijakan keuangan Pemerintah selama ini. Bank itu kolaps, berarti pasar telah melakukan seleksi alam. Selesai. Kalian seharusnya paham sekali, ada prinsip-prinsip dalam pengelolaan perekonomian nasional yang harus dipegang teguh. Jika tidak, omong kosong bicara good governance, reformasi birokrasi, dan sebagainya itu.”

Aku menelan ludah. Sejak awal aku sudah tahu, jika keputusan urusan ini terserah Ibu Menteri, Bank Semesta tidak akan pernah membuka kantornya lagi, tidak ada matahari esok untuk bank milik Om Liem. Pemberian dana talangan di luar kelaziman yang dipahaminya.

“Nah, apakah akan terjadi rush besar-besaran Senin besok jika Bank Semesta diumumkan pailit? Bahaya dampak sistemis terjadi? Sistem keuangan nasional ikut kolaps? Itu sepertinya harus mendengarkan pendapat anggota komite lainnya. Kau boleh jadi benar, terkadang keputusan telah dibuat sebelum kita memutuskan. Tetapi rapat komite nanti sore jelas adalah proses pengambilan keputusan, bukan mencari argumen. Sejauh ini, saya tidak akan mendahului proses itu dengan preferensi pribadi.” Menteri untuk ketiga kalinya memperbaiki posisi duduk.

“Bagaimana dengan nasabah besar yang harus kehilangan uang kalau Bank Semesta ditutup?” Julia bertanya setelah lengang sejenak.

“Itu risiko mereka. Semua orang seharusnya tahu, lembaga penjamin simpanan kita hanya menjamin tabungan hingga batas tertentu.” 

“Ada ratusan nasabah....“ 

“Tentu saja akan ada ratusan, bahkan ribuan nasabah yang kehilangan uang, tapi bukan nasabah kecil yang dijamin Pemerintah. Ada banyak hal yang harus kami cemaskan, dan jelas itu bukan nasabah kelas kakap, apalagi nasib pemilik bank yang bangkrut,” Menteri menjawab datar.

Ruangan lengang lagi sejenak. Sudah hampir dua puluh menit berlalu.

Baiklah, sudah saatnya aku mengambil dokumen yang tadi diantarkan Maggie. Aku mengeluarkan selembar kertas dari dalam amplop cokelat, menyodorkan pada Menteri.

“Apakah Ibu pernah membaca data ini dalam laporan-laporan tentang Bank Semesta.”

“Ini apa?” Ibu Menteri menerimanya.

“Daftar deposito perusahaan negara di Bank Semesta,” aku menjawab pendek, membiarkan sebentar Menteri melihat cepat dokumen itu.

“Apakah ini valid?” Terdengar helaan napas samar di balik pertanyaan Menteri---meski wajahnya tetap berusaha tenang dan datar.

“Lebih dari valid, aku mendapatkannya dari pihak internal Bank Semesta.” Aku menjawab lugas. “Seperti yang Ibu lihat sendiri, setidaknya ada delapan perusahaan negara yang menaruh deposito bernilai ratusan miliar di Bank Semesta. Nah, tadi Ibu bertanya padaku, apa untungnya bagi Pemerintah menalangi Bank Semesta? Ibu bisa menyimpulkannya sendiri.”

Ruangan besar itu kembali lengang. Aku sengaja memasang wajah menunggu komentarnya setelah melihat dokumen itu. Boleh saja wanita tangguh ini memilih disiplin dan konsisten, memegang teguh prinsip-prinsipnya, tapi dengan dokumen ini, situasinya hanya menjurus dua hal buruk. Biarkan Bank Semesta pailit, maka seluruh deposito delapan perusahaan negara bernilai nyaris satu triliun akan hangus. Kerugian itu akan dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan negara, tidak bisa ditutup-tutupi. Maka dengan cepat, media massa memburu penjelasan. Siapa yang telah memberikan otorisasi menyimpan deposito di bank bermasalah, siapa yang harus bertanggung jawab. Lingkaran setan masalah ini sama runyamnya dengan pilihan menyelamatkan Bank Semesta.

“Saya tahu, cepat atau lambat urusan ini tidak pernah sesederhana itu.” Kali ini aku mendengar jelas helaan napas Menteri. “Saya tidak menemukan data ini dalam laporan bank sentral. Astaga, banyak sekali uang perusahaan negara disimpan di sana.”

Ruangan kembali lengang.

“Saya minta maaf kalau dokumen itu menambah tekanan baru bagi Ibu dalam mengambil keputusan.” Aku berkata sesopan mungkin, berlagak ikut simpati.

“Terima kasih, Thomas. Tanpa dokumen ini pun, cepat atau lambat situasinya semakin rumit.” Menteri perlahan meletakkan selembar kertas itu di atas meja. “Sayangnya waktu wawancara kita telah habis, ada banyak pekerjaan yang harus saya tuntaskan.”

Aku dan Julia mengangguk.

Menteri berdiri. “Saya antar kalian ke pintu keluar.”

Kami melangkah menuju pintu depan.

“Salam buat Shambazy.” Menteri berjabat tangan dengan Julia.

“Dan kau, Thomas, kau tidak cocok menjadi wartawan. Kau bukan tipikal komentator dan penonton seperti Shambaz, kau adalah pemain, pemain kasti yang hebat, tukang timpuk anak-anak perempuan yang lebih kecil.” Menteri menyalamiku, tertawa.

Aku ikut tertawa sopan.

Pertemuan itu telah selesai.


***



“Dari mana kau dapat ide tentang bola kasti itu?” Julia bertanya saat lift meluncur turun.

“Maggie. Dia menuliskan hasil googling-nya dalam kertas lain di dokumen yang dia antar tadi. Berguna, bukan? Detail superkecil seperti itu.”

“Maggie? Stafmu yang memanggil aku Nenek Lampir?” Wajah Julia terlipat.

Aku tertawa, melirik pergelangan tangan, pukul 09.45. Aku masih punya waktu tiga jam sebelum jadwal penerbangan nanti sore.

“Kau sekarang ke mana?” Julia bertanya lagi.

“Beberapa pertemuan kecil lagi sebelum nanti sore berselancar di Bali.”

“Berselancar di Bali?”

Aku mengangguk, menatap angka-angka penunjuk lantai di dinding lift. “Kau mau ikut?”

Alis Julia terangkat. “Dalam urusan seperti ini? Kau bergurau atau serius, Thom?”

“Mengajakmu berselancar ke Bali? Tentu saja aku serius, Julia. Itu bisa jadi pengantar yang baik sebelum kita makan malam bersama di tepi pantai misalnya.”

Julia melotot sebal.

Aku tertawa. “Aku harus menemui seseorang di Denpasar pukul empat sore. Itu pertemuan paling penting dari semua skenario, Julia. Kau seharusnya bisa menyimpulkan sendiri dari percakapan tadi, walaupun aku menyerahkan dokumen yang lebih mengenaskan tentang deposito perusahaan negara di Bank Semesta, wanita tangguh itu boleh jadi tetap akan memilih disiplin dan konsistensinya. Dia kukuh. Dia tidak akan menalangi Bank Semesta sepeser pun. Aku membutuhkan bidak lain untuk memastikan keputusan rapat komite sebaliknya.”

“Kau akan bertemu siapa di Bali?” Julia bertanya.

Pintu lift sudah terbuka sebelum aku sempat menjawab. Lobi gedung langsung terlihat ramai dan bising. Pejabat tinggi bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan (yang kemarin sore satu pesawat denganku) telah tiba dari luar kota, dikerubuti wartawan.

“Cepat, Julia.” Aku sudah melangkah cepat, berusaha menyelinap pergi.



*bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 30 - Bidak Ketiga

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------


LOBI gedung ramai oleh “lalat” pencari berita. Tetapi tentu saja mereka tidak peduli ketika taksi yang kutumpangi merapat. Mereka menunggu pejabat penting. Aku menyeringai, melintasi lobi tanpa gangguan. Seandainya mereka tahu akulah yang sedang berusaha mati-matian menskenariokan banyak hal terkait Bank Semesta, memegang kunci informasi penting, mungkin mereka akan saling sikut, saling dorong mengepungku. Apa kata Opa dulu, di dunia ini, urusan penting dan tidak penting hanya terlihat dari kulit luarnya saja. Orang terkadang lupa, orang-orang di sekitarnya yang selama ini terlihat biasa saja dan sederhana, justru adalah bagian terpenting dalam hidupnya.

Lupakan kebijaksanaan Opa, aku harus bergegas menemui Julia. Sejak tadi dia menunggu.

Dari gumaman kuli tinta, menuju lift, aku tahu isu tentang rapat komite stabilitas sistem keuangan hanya menunggu waktu digelar. Staf Istana sudah hadir. Petinggi bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan dalam perjalanan pulang dari luar kota---setelah mengisi jadwal kuliah umum. Beberapa petinggi bank besar milik negara, pejabat tinggi, dan anggota komite juga telah dihubungi.
Aku menekan tombol lift. Pintu lift membuka. Aku melangkah masuk, sendirian, menatap wajah di dinding. Aku menyisir rambut dengan jemari, merapikan jas yang kukenakan, menepuk debu di celana gelap, dan mengangguk. Semua sudah oke. 

Lift mendesing naik, lima belas detik lengang. Kontras dengan di luar tadi.

“Akhirnya kau tiba tepat waktu, Thom.” 

“Eh?” Aku menelan ludah.

Wajah dan suara Julia sudah menungguku persis ketika pintu lift terbuka, lantai ruangan menteri. Julia berseru dengan wajah cemas. Dia sepertinya sejak tadi berdiri di lorong lift.

“Beliau sudah datang lima belas menit lalu, Thom.” Julia tidak memberikanku kesempatan bernapas, bergegas melangkah menuju meja resepsionis yang dijaga beberapa petugas keamanan---yang sejauh ini berhasil menghalau siapa saja yang hendak masuk ruangan menteri.

“Sebentar, Julia. Kita tidak bisa menemui beliau sekarang. Aku harus menunggu Maggie. Ada dokumen penting.” Aku mengingatkan, masih berdiri di lorong.

“Tidak akan sempat, Thom. Ajudan menteri sudah mengingatkan dua kali. Jika kita tidak segera masuk ruangan, jadwal kita dibatalkan.”

“Dua menit, Julia! Ayolah, kita tunggu dua menit.”

“Thomas, kita tidak punya waktu bahkan untuk satu menit.” Wajah Julia terlihat menyebalkan. Dia sudah berdiri di depan meja resepsionis, ujung lorong, berseru, ditonton petugas keamanan. “Kau tidak tahu apa yang telah dilakukan pemimpin redaksi review kami untuk mendapatkan jadwal audiensi sepenting ini. Aku masuk duluan kalau kau tidak mau.”

Aku menggeleng. Percuma aku masuk dalam sebuah “pertempuran” tanpa amunisi.

Kabar baiknya, sebelum Julia berseru jengkel, masuk sendirian ke dalam ruangan, atau melemparku dengan tasnya, suara denting pelan berbunyi. Pintu lift di belakangku terbuka.

Maggie dengan napas tersengal datang membawa dokumen.

“Aku tidak terlambat, bukan?” Maggie bertanya cemas.

Demi melihat wajah bergegas Maggie, aku sungguh tertawa lega. “Kau tidak pernah terlambat, Mag. Kau sudah seperti superhero yang menyelamatkan dunia, selalu datang tepat waktu.”

Maggie mengembuskan napas. “Syukurlah. Ini dokumennya, Thom. Semua ada di sana.”

Aku memeriksa sebentar, mengangguk.

“Eh, kau bersama Nenek Lampir itu?” Maggie berbisik, menunjuk.

Aku mendongak, menoleh ke belakang, ke arah yang ditunjuk Maggie.

Aku seketika tertawa, menatap Julia yang masih berdiri menunggu di depan meja resepsionis. Maggie pastilah masih sebal karena kemarin Julia merangsek ruanganku, tidak bisa dia cegah. 

“Astaga, bahkan wajahnya sekarang tetap sama seperti dia menerobos kantor kemarin. Judes, tidak berperasaan, tidak sabaran. Benar-benar Nenek Lampir.” Maggie bergumam.

“Dia wartawan, Mag, begitulah kelakuannya.” Aku tersenyum pada Maggie. “Nah, terima kasih untuk dokumen ini. Kau bisa segera kembali ke kantor. Aku memerlukan beberapa bantuan lainnya. Aku harus ke Denpasar nanti sore. Ada pertemuan penting pukul empat. Kau bisa bantu menyiapkan perjalanan, juga menghubungi beberapa orang lagi dan beberapa informasi penting.”

“Baik, baik.” Maggie mengusap wajahnya, memasang wajah pura-pura kecewa besar. “Nasib sekali menjadi stafmu, Thom. Bertahun-tahun hanya disuruh mengurus tiket pesawat, kurir dokumen, mengumpulkan informasi, dan remeh-temeh lainnya. Sementara Nenek Lampir tidak jelas yang baru kaukenal kemarin itu kauajak bertemu dengan menteri.”

Maggie menekan tombol lift.

Aku tertawa lagi. “Kau lupa kalimatku barusan Mag. Kau adalah superhero. Julia hanya Nenek Lampir.”

Pintu lift terbuka.

“Ya, ya, superhero remeh-temeh. Bye, Thom. Salam buat Nenek Lampir itu. Semoga dia tidak naksir kau. Kalau kejadian, aku bisa menjadi pesuruh rendahannya kelak.” Maggie sudah masuk ke dalam lift.

Aku mengabaikan gurauan Maggie, melangkah menuju meja resepsionis.

Petugas memberikan kami kartu pengenal. Untuk ketiga kalinya dia mengingatkan jadwal kami yang hanya tiga puluh menit. Aku mengangguk, mengenakan kartu pengenal, itu lebih dari cukup.

“Stafmu itu tadi bilang apa?” Julia bertanya saat kami melangkah menuju pintu ruangan menteri, sambil merapikan pakaiannya.

“Dia bilang kau Nenek Lampir.” Aku sengaja menjawab lurus.

“Apa?” Dahi Julia terlipat.

“Iya, dia bilang kau Nenek Lampir.” Aku melambaikan tangan.

“Dasar sialan!” Julia bahkan terhenti sejenak.

“Beliau sudah datang lima belas menit lalu, Julia. Kita tidak punya waktu bahkan untuk satu menit membahas tentang Nenek Lampir. Kau tidak tahu apa yang telah dilakukan pemimpin redaksi review untuk mendapatkan jadwal audiensi sepenting ini, bukan?” Aku terus melangkah

Wajah Julia terlihat merah padam, berbisik ketus. “Kau memang lelaki pembalas, Thomas. Dan stafmu tadi juga mewarisi sikap buruk itu.”

Aku hanya menyengir, mendorong pintu. Inilah pertemuan penting kedua setelah kemarin sore aku sengaja satu pesawat dengan gubernur bank sentral dan ketua lembaga penjamin simpanan. Bidak kedua dalam permainan penting ini.



*bersambung

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

[NOVEL] Negeri Para Bedebah Episode 29 - Pilihan Rasional Atas Dua Kemungkinan Buruk

Selamat menikmati novel Negeri Para Bedebah yang di posting oleh Tere Liye Sendiri di akun facebook resminya. Tidak ada niat unsur plagiat Novel Negeri Para Bedebah di sini karena saya hanya mengumpulkan dari yang sudah di posting oleh Tere Liye sendiri.

------------ Selamat Membaca -------------------

Pilihan Rasional Atas Dua Kemungkinan Buruk


TAKSI yang kutumpangi dari dermaga yacht masih setia menunggu.

“Kita ngebut lagi, Pak?” pengemudinya bertanya, menyeringai.

Belum hilang anggukanku, belum genap menyebut tujuan berikutnya, mobil sudah melesat meninggalkan pelataran parkir gedung Bank Semesta.

Hari Minggu, jalanan protokol lengang.

Telepon genggamku berbunyi saat aku merebahkan punggung, berusaha rileks sejenak. Nama Erik terpampang di layar telepon genggam. Aku menggerutu, sejak tadi aku menunggu nomor kontak yang akan dikirimkan Erik.

Aku mengangkat telepon, setengah berseru. “Kau butuh berapa lama lagi untuk mengirimkan business card putra mahkota, Erik?”

“Sabar, Thomas.” Erik berkata santai.

“Astaga, waktuku terbatas.” Aku mulai jengkel.

“Aku harus melewati beberapa prosedur sebelum memberikan nomor kontaknya, Thom. Kau tahu, ini tidak seperti memberikan nomor telepon artis idola atau pengarang kesayangan, atau nomor telepon terapis langgananmu. Lagi pula, kabar buruknya, dia tidak otomatis mengangkat setiap telepon yang masuk. Nomormu tidak dikenali, mau kau telepon belasan kali, jangan harap dia angkat, dilirik pun tidak.” Erik menjawab dengan logika.

Aku terdiam sejenak. Benar juga.

“Nah, kabar baiknya, aku baru saja menelepon dia lima menit lalu, bilang ada teman klub petarung yang ingin menghubungi, membicarakan sesuatu yang amat penting. Dia bersedia kauhubungi, tapi tidak lewat telepon, Kawan, riskan sekali melakukan pembicaraan sensitif lewat telepon. Dia menyediakan waktu untuk pertemuan langsung. Kabar baik, bukan?” Erik tertawa.

Aku mengepalkan tinju, senang mendengarnya. 

“Ini jelas lebih baik, Erik. Terima kasih banyak. Kau memang teman yang baik.”

“Berterima kasih saja tidak cukup, Thom, kau harus mencium kakiku.” Erik masih tertawa. “Meminta jadwal pertemuan dengan putra mahkota tidak pernah mudah. Aku harus meyakinkannya berkali-kali kalau kau akan membicarakan sesuatu yang penting sekali.”

“Di mana pertemuannya?” Aku mengabaikan kalimat Erik dan tawanya, bergegas memastikan.

“Nanti sore pukul empat di Denpasar. Dia dan petinggi partai politiknya sedang di sana, urusan partai, membuka munas, musda, atau apalah.”

Aku mengembuskan napas. “Tidak bisakah dia ke Jakarta, Erik. Jadwalku ketat sekali sebelum besok pagi kantor buka.”

Erik tertawa menyebalkan. “Kau gila, Thom. Kau pikir dia klien, teman kantor, atau siapalah yang bisa kau suruh-suruh selama ini. Esok lusa boleh jadi kau melihatnya di televisi sedang pidato kenegaraan, dan kita tidak bisa lagi memanggil namanya langsung tanpa sebutan Bapak.”

Aku menelan ludah. “Aku hanya bergurau, Erik. Kau tidak pernah mengerti sarkasme, entah itu di rapat-rapat atau bahkan dalam percakapan telepon sekalipun. Aku bisa ke Denpasar nanti sore pukul empat, itu hanya perjalanan dua jam. Terima kasih sudah membantuku.”

“Simpan saja terima kasihmu sekarang, Thom. Aku akan menagihnya di waktu yang tepat, permintaan yang tepat, dan harga yang mahal.” Erik menyengir.

“Aku akan membayarnya. Pegang janjiku.”

“Great. Adios, Kawan.”

“Sebentar, Erik,“ aku mencegah Erik menutup telepon, teringat sesuatu, “tadi kau bilang tidak mudah bertemu dengannya, lantas bagaimana kau hanya butuh waktu lima menit untuk meyakinkan dia?” 

“Itu gampang, Thom. Aku tiru mentah-mentah trik kau selama ini. Kubilang, orang ini, yang meminta jadwal bertemu, hendak menyumbang sepuluh miliar untuk dana partai. Brilian, bukan? Dia bahkan lupa untuk bertanya siapa namamu. Nah, selamat berlibur, jangan lupa bawa sunblock atau papan selancarmu. Selamat bertemu dengannya, Thom. Ingat, kau harus sopan. Dia amat sensitif. Maklumlah, anak muda yang tiba-tiba kejatuhan bulan, kekuasaan besar di tangan, banyak sekali penjilat di sekitarnya. Salah-salah kata, mood-nya bisa rusak, dan kau kehilangan kesempatan. Kalau dia siapalah, paling juga sedang keringatan mengepit map lamaran kerja, atau gugup mengerjakan lembar ujian psikotes.” Erik tertawa, menutup telepon.

Aku mendengus pelan, lelucon yang buruk. 

Mobil taksi terus membelah jalanan lengang.

Telepon genggamku berbunyi lagi saat aku baru saja rileks meluruskan kaki.

“Kau di mana, Thomas?” Suara Julia, sedikit terdengar panik.

“Aku di taksi, menuju kantor, hendak mengambil berkas. Lantas baru ke tempatmu. Ada apa?”

“Tidak ada waktu lagi, Thomas. Kau harus segera ke sini. Jadwal pertemuan kita dimajukan satu jam. Ajudan menteri baru memberitahuku beberapa detik lalu.”

“Kau yakin?” Aku melirik jam di dashboard taksi, itu berarti tiga puluh menit lagi

“Bergegas, Thomas!” Julia menjawab jengkel. “Atau hanya aku yang akan menemuinya, melakukan wawancara basa-basi sesuai skedul.”

“Tetapi berkas itu penting, Julia. Itu akan membuat perbedaan.”

“Peduli amat dengan berkas itu. Kau suruh siapa saja mengantarnya. Aku tidak bisa menelepon kau lama-lama. Lobi gedung ini semakin ramai, sepertinya semua wartawan berebut ingin tahu apa yang sedang terjadi. Ada staf khusus Istana yang datang. Mobilnya baru merapat. Dia sepertinya juga akan bertemu menteri. Teman wartawan lain sudah berlari-lari mengerubungi. Aku juga harus mendengar apa yang dia katakan.”

Percakapan telepon diputus. 

Baiklah, kepalaku melongok ke depan, menyebut tujuan baru pada sopir taksi.
“Lebih ngebut, Pak?” pengemudi bertanya polos.

“Terserah kau saja,” aku menjawab pendek.

“Siap, Pak.” 

Taksi dengan cepat meliuk, menyalip dua mobil sekaligus.

Aku menekan nomor telepon genggam Maggie, aku harus meminta Maggie mengantarkan dokumen itu. Tanpa salinan dokumen yang disiapkan Maggie, aku tidak bisa membujuk Ibu Menteri. Kalian tidak akan pernah bisa membujuk wanita berhati baja itu, aku mengenalnya bahkan sejak kuliah. Satu-satunya cara meruntuhkan sebuah keteguhan sikap atas kejujuran dan integritas hidup hanyalah dengan mengurung dia dengan dua pilihan. Hanya dua pilihan, tidak lebih, tidak kurang. Dua pilihan yang sama-sama sulit. Maka ketika skenario itu terjadi, konteksnya menjadi berubah: pilihan paling rasional atas dua kemungkinan terburuk. 

Salinan dokumen yang dipegang Maggie adalah kuncinya.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua Cerita Tentang Novel Negeri Para Bedebah Edisi Bersambung Ini Tidak saya Ambil dan Tulis Ulang dari Novel Negeri Para Bedebah. Tapi di Copas Dari Page Tere Liye Di Facebook.

Untuk Dapatkan Updatenya, bisa di dapat di Page Resmi Dari Tere Liye  secara langsung, : https://www.facebook.com/tereliyewriter/?fref=nf

Atau langsung baca secara lengkap dari episode 1 sampai akhir di blog saya: http://ciminis.blogspot.co.id/p/blog-page.html
Sedangkan saya hanya mengumpulkannya saja di blog saya, karena bagus. Terima Kasih.

Untuk Pembelian Novel Tere Liye Dengan Judul Negeri Para Bedebah bisa langsung cari saja di gramedia.

Sabtu, 04 Maret 2017

Solusi Ketimpangan Ekonomi Oleh Ippho Santosa



Kemarin, selama dua hari saya bersama ibu saya berada di Ende, NTT. Di sinilah Bung Karno diasingkan Belanda dan merenungi nilai-nilai Pancasila. Di sini pula ada Wologai dan Saga, dua kampung adat yang sudah berusia ratusan tahun. Di sini pula ada Kelimutu, tiga danau yang berubah-ubah warnanya dan tergambar di uang kertas Rp 5.000 yang lama. Alhamdulillah, saya bersama ibu saya sempat mengunjungi ini semua.

Sayangnya, ketimpangan ekonomi antara investor (kebanyakan dari Jakarta) dengan masyarakat setempat di NTT membuat kita prihatin. Dan ketimpangan ini terlihat semakin mencolok kalau Anda berkeliling di Labuan Bajo. Btw, berapa jumlah si kaya di bumi ini? Berapa pula jumlah di miskin saat ini?

Bank Dunia memetakan adanya ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi yang mencolok di Indonesia, di mana 1% penduduk menguasai 40% sampai 50% kekayaan nasional. Ini mengerikan.

Keadaan memburuk semenjak kita memasuki era reformasi, karena menurut Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), lembaga yang dipimpin oleh Christianto Wibisono atau Oey Kian Kok, di tahun 1990-an masih 30% penduduk yang menguasai 70-an persen PDB.

Hati-hati, ketimpangan ekonomi ini akan memicu kemarahan, kebencian, juga kriminalitas dari si miskin terhadap si kaya. Bagai bom waktu saja. Tak heran, kericuhan kecil bisa membolasalju karena bergeraknya dan berkumpulnya kaum yang disebut-sebut marginal ini.

Ingatlah, berpisahnya Bangladesh dari Pakistan pada tahun 70-an, salah satunya dipicu oleh faktor ketimpangan ekonomi. Toh, kita juga pernah mengalaminya, yaitu berupa krisis moneter dan kerusuhan pada tahun 1998.

Lantas, apa solusi praktis dari saya? Pertama, galakkan sedekah, zakat, dan wakaf. Terus, apa lagi? Sebuah pesan klasik dari Nabi Muhammad, menjadi landasan utama bagi saya dalam berpikir, "9 dari 10 bagian kehidupan berada di perniagaan."

Apa artinya? Bahasa gampangnya, 90% uang beredar di kalangan pengusaha. Yang 10% barulah beredar di kalangan yang lain. Dengan kata lain, untuk mapan dan kaya finansial (MKF) akan lebih mudah kalau Anda menjadi pengusaha atau investor.

Yang namanya pengusaha, tidak harus dimulai dengan usaha yang besar-besaran. Boleh usaha yang kecil-kecilan dulu. Bertahap, kemudian barulah diperbesar. Ketika pantas dan tiba waktunya, insya Allah besar beneran. Hal ini saya sampaikan kepada Bang Fajar dan rekannya, dua orang yang menemani saya selama berada di Ende.

Pada akhirnya, daripada mengutuk ketimpangan ekonomi, lebih baik kita berbuat sebisanya dan menjadi bagian dari solusi. Tentu, sembari memberi masukan kepada pemerintah dan pengusaha-pengusaha besar agar lebih peka pada permasalahan ini.

Sekian dari saya, Ippho Santosa.